Siap Jatuh Cinta dengan Christian Simamora, Marry Now Sorry Later?

Siapa yang tidak kenal sama Christian Simamora? Novelnya belasan judul mengisi rak-rak toko buku manapun di seluruh Indonesia. Penggemarnya juga tidak kalah banyak karena Abang Simamora memang friendly dan humble. Tapi, yang ga kalah penting adalah disetiap buku Christian Simamora, quotenya nyelekit sampai minta DISOBEK!

Contohnya quote yang ada di halaman depan buku ini.

Lebih baik mencintai yang tak bisa kau miliki, daripada memiliki seseorang yang tak bisa balas mencintai. 

mnslChristian Simamora, Marry Now Sorry Later (Rate : 3/5)

Diterbitkan tahun 2015 | 438 halaman

 

Kisah Jao dan Reina dimulai ketika ayah Reina meninggal dengan setumpuk hutang ke perusahaan Jao.

‘Becandaan’ Jao kalau ia menginginkan perempuan itu, rupanya di tanggapi serius oleh si malang Reina. Tapi bukannya setelah one-night-stand semuanya berakhir baik, Jao malah menginginkan Reina menjadi istri kontraknya selama setahun.

Emang dasar Reina juga gila! Di hari pernikahan, dia malah kabur! 6 bulan berlalu, Jao akhirnya menemukan tempat persembunyian Reina dan membawanya pulang untuk melanjutkan 6 bulan sisa pernikahannya.

Gimana nasip Reina di tangan koko Jao? Silahkan baca sendiri yaa~

Diamku saja sudah sulit kau pahami. Bagaimana ceritanya aku bisa yakin kau akan mengerti sepatah kata pun ucapanku? – hal 142

Satu kata menggambarkan buku Christian Simamora adalah pedas! Saya yakin siapapun yang pernah baca buku Christian Simamora pasti setuju dengan ini. Quote-nya tajam banget! Saya bener-bener geregetan dengan kemampuan Christian Simamora yang bisa banget bikin quote-quote real yang nyelekit tanpa pandang bulu. Mau itu tentang ceweknya, cowoknya atau tentang cinta itu sendiri. Semua disikat habis! Kalo dipertandingan basket, quote Simamora itu bener-bener 3 points shooter! JUARA!

Keunggulan Christian Simamora dalam mencetak quote sadis ini memang bernilai jual tinggi. So, gak heran pihak penerbit memasukan quote yang paling mewakili cerita novel secara keseluruhan dalam sampul covernya. Saya rasa tujuannya tidak lain adalah untuk menambah apparel supaya lebih menarik, mengundang dan gatel pengen di beli!

Apakah strateginya berhasil? Iya, saya salah satu korban setianya 🙂

 Bahkan masa lalu saja bilang kita tak punya masa depan. – hal 92

Salah satu ciri khas dari tulisan Christian Simamora selanjutnya adalah tokoh-tokohnya yang bener-bener idaman! Cowoknya super keterlaluan ganteng, macho, pintar, kaya, badannya oke, mapan dan seribu alasan lainnya untuk minta cepat-cepat di halalin. Pokoknya idaman dipacarin, idaman dinikahin, idaman digandeng dan idaman diajak bobo bersama~ *exhale*

Hal sebaliknya juga berlaku ke tokoh utama perempuannya yang chic. Mungkin ada beberapa yang ga terlalu mapan, atau biasa banget. Tapi tetep aja tipikal cewek hits!

Satu-dua novel dengan latar tokoh seperti itu masih oke lah. Tapi kalo belasan buku dengan tokoh dan story ending yang kira-kira begitu juga? Well, I need a break…

The only time I realize I have a heart is when it’s breaking. – hal 392

Secara bahasa, novel ini termasuk ringan karena banyak mengandung bahasa sehari-hari, percampuran dengan bahasa Inggris sederhana dan istilah-istilah gaul yang bahkan saya sendiri tidak pernah dengar. Bisa di bilang melalui novel ini, saya belajar jadi anak Jaksel! Oke sip, kalo ke Jakarta udah bisa nongkrong di Kemang!

Tapi, apakah ini berarti buruk? Saya rasa tergantung sudut pandang siapa yang melihatnya. Kalau saya sendiri masih bisa menerima dan menikmati permainan kata dalam buku ini. So far so good!

Kau adalah alasan kenapa neraka itu harus ada. – hal 30

Cerita di buku ini adalah salah satu yang paling saya suka dari serial #JBoyfriend . Alur ceritanya jelas, ga neko-neko dan straight to the point. Penulis juga sangat konsisten dan ekspresif dalam menggambarkan emosi yang dirasakan para tokoh, yang bikin kita jadi ikutan baper. Hal-hal seperti ini adalah poin plus karena memudahkan para pembaca, khususnya pembaca baru untuk larut dalam ceritanya. Sadar-sadar udah selesai aja baca novelnya.

Struggle point-nya juga tidak terlalu banyak, sehingga elemen kejutan dalam novel ini sangat minim. Itu sebabnya novel ini jadi mudah di prediksi ending-nya. Err… Sebenarnya dari cover bukunya, kita sudah bisa prediksi akhir ceritanya bagaimana sih :’)

Bukan teman, bukan juga musuh. Kau dan aku kini seperti dua orang asing dengan segudang kenangan. – hal 408

Sejauh ini, saya cukup menikmati membaca novel Marry Now Sorry Later. Novelnya ringan, jadi bisa di baca dalam kondisi apapun bahkan ketika lagi suntuk sekalipun. Bagus banget buat temen-temen khususnya perempuan yang suka novel ringan dan mau killing-time.

Kalau yang laki-laki memang ga cocok? Bukannya begitu. Kalau kamu suka novel yang agak feminim, ‘girl-dreams’ dan sisi point of view-nya adalah protagonist wanita, mungkin saja kamu bisa cocok dengan buku ini.

Cukup ‘dreamy’ tapi ga bikin baper berlebih setelahnya karena saking ‘dreamy’-nya, kamu tahu bahwa tokoh dan jalan cerita seperti ini tidak akan terjadi di hidup kamu. Plus, quote Bang Simamora mampu menghempas kamu balik ke Bumi.

I wish you don’t grow from someone I love to someone I lose. – hal 404

Selamat membaca! Selamat bahagia!

Rate : 3/5

 

 

Advertisements

Surga dan Neraka di Telapak Kaki Mama.

Tulisan ini terinspirasi dari satu quote yang bilang bahwa “Dalam pangkuan Ibu, ada ketenangan dan kedamaian”. Hmm.. Bolehkah saya tidak setuju?

Saya yakin ada ribuan jenis ‘Ibu’ dimuka bumi ini karena manusia diciptakan Tuhan sangat unik. Kata ‘lembut’ dan ‘damai’ tidak bisa diaplikasikan ke semua jenis ‘ibu’. Memang ada tipe Ibu yang lembut, tapi ada juga yang sangat demokratis, kesannya bodo amat, ada yang sangat strong, Ibu-rasa-teman, dan masih banyak lagi. Tapi apapun jenis ‘ibu’ yang kamu miliki, saya yakin kita selalu dapat ‘ibu’ terbaik dari Tuhan. Karena kalau tidak, bagaimana kita bisa berdiri sampai sekarang? 🙂

Saya lahir dari orang tua yang karakternya sangat bertolak belakang. Papa, anak bungsu haus kasih sayang sehingga jadi sangat pemberontak, keras kepala dan tidak mau mendengarkan orang lain; Mama, si baperan yang center of attention wannabe dengan hobinya nuntut karena takut kalah saing sama orang. Bayangin deh gimana jadinya 2 orang dengan model seperti ini bisa jadi suami-istri dan tinggal dalam satu rumah? 😦

Itu sebabnya mereka HOBI berantem. Waktu parah-parahnya saat saya duduk di bangku SMP. Saya ingat hampir setiap malam, saya tertidur dengan mata sembab karena Mama teriak ngamuk-ngamuk ke Papa. Saya tidak tahu apa yang mereka bicarakan, saya-pun tidak ingat apa yang terjadi saat itu, tapi ketegangan dan momen itu selalu membuat air mata saya mengalir deras tanpa saya sadari. Teman saya saat itu cuma penyiar Radio malam yang setia menemani saya dan memutarkan lagu-lagu hingga saya terlelap.

Episode lain, Mama suka tiba-tiba pergi dari rumah. Lalu, Papa akan menyuruh saya dan kakak membujuk Mama lewat telepon supaya Mama cepat pulang. Pernah juga, Mama kabur ke Bandara sehingga Saya, Papa dan kakak harus merayu Mama di Bandara untuk pulang ke rumah. Gilaaa udah kayak sinetron belum?

Puncaknya ketika suatu malam, saya melihat Mama menampar Papa. Saat itu saya mau ke kamar kecil dan saya lihat pintu Mama terbuka. Ketika saya tenggok, saya melihat Mama menampar Papa dan membuat saya shock setengah mati! Kejadian itu meninggalkan bekas trauma yang sangat mendalam hingga saat ini. Karena saat itu usia saya baru belasan tahun dan masih sangat labil.

Saya ingat waktu itu saya cuma berdoa kepada Tuhan supaya Mama Papa kembali akur seperti saat saya dan kakak masih kecil. Setiap minggu bisa ke Gereja bersama, main ke Pantai, jalan-jalan ke luar kota dan masih kegiatan menyenangkan lainnya. Itu sebabnya saya yang waktu itu masih umur belasan berusaha semaksimal mungkin untuk melakukan yang terbaik agar mereka berdua bahagia.

Saat itu kami tidak ada pembantu rumah tangga dan Mama orangnya sangat pembersih. Demi membuat Mama senang, saya setiap hari (tanpa atau disuruh Mama) bersih-bersih rumah. Rumah kami 2 lantai dengan 2 kamar, cukup luas dan gampang berdebu karena di pinggir jalan raya.

Itu untuk pertama kalinya saya melakukan pekerjaan rumah tangga karena semenjak saya lahir hingga umur 13 tahun, saya selalu ada ‘mba’. Saya tidak tahu cara menyapu, pel, setrika baju, lap kaca, cuci piring dan lainnya. Semua saya lakukan sendiri dan belajar sendiri karena saya ingin membuat Mama bangga. Bahkan saya tidak lagi merasa sakit ketika setrika panas berulang kali melukai tangan saya, sikat WC yang tajam membuat jari tangan saya terkelupas dan tidak terhitung lagi berapa kali saya tergelincir sampai kepala saya terhempas ubin karena air pel.

Tapi, taukah apa reaksi Mama ketika melihat semua pekerjaan saya? Dia ngamuk, saudara-saudari! Dia bilang saya kerja tidak pakai hati, masih berdebu, kurang bersih, dan masih banyak lagi. Saya cuma bisa diam saat melihat reaksi Mama, sambil memanjatkan doa agar Tuhan menolong saya agar saya tidak kepahitan sama Mama.

Mungkin dari sisi kebersihan, yang saya kerjakan kurang bersih tapi kenapa tidak ada sedikitpun penghargaan di lontarkan untuk saya?

Memang benar kita belajar tentang ‘cinta’ dari rumah. Tapi, dari orang yang sama kita belajar sakitnya kecewa.

Satu-satunya alasan saya masih ada hingga sekarang karena Kakak saya yang selalu ada buat saya dan menjaga saya agar tetap waras. Saya terlalu hancur karena Mama, yang emosinya terlalu meledak-ledak dan ringan tangan. Mama yang memeluk saya ketika saya sakit, mencium saya ketika saya dapat nilai bagus, mengusap rambut saya saat saya tidur dan membacakan buku cerita ketika saya sulit tidur; kini hanyalah sebuah memori indah yang tersisa di masa-masa kecil saya.

Disatu sisi saya juga sangat kecewa dengan Papa, yang bukannya sebagai kepala keluarga mencari jalan keluar terbaik atau paling minim adalah menelan mentah-mentah kejadian ini supaya anak-anak memiliki citra baik tentang ‘keluarga’. Ini malah kerjaan curhat kepada dua anaknya yang masih labil tentang keburukan Mama-nya supaya membuat kami berdua benci dengan Mama!! Such a loser. Makin parahlah drama keluarga ini~

Untungnya SMA aku pindah ke Jakarta sehingga tidak lagi menyaksikan LIVE drama keluarga yang sudah ribuan episode ini.

Di Jakarta, saya banyak menemukan hal serupa bahkan lebih tragis dan dramatis yang dirasakan teman-teman saya daripada apa yang saya rasakan. Disana saya mulai membuka pikiran saya dan menerima kenyataan bahwa Mama saya bukan yang terburuk.

Pergi belajar di Kota besar juga membuat saya menghargai arti keluarga yang mungkin hanya bisa bertemu beberapa kali dalam setahun. Saya mulai belajar mengampuni dan melupakan masa-masa kelam drama Mama Papa. Sebagai gantinya, saya malah rindu bertemu dengan mereka ❤

Bertambahnya usia juga mempengaruhi tingkat kedewasaan saya dalam melihat suatu kondisi dan permasalahan. Saya mulai bisa menempatkan diri lebih netral agar tidak mudah terpengaruh oleh retorika Papa, dan belajar untuk melihat pesan implisit yang sebenarnya Mama mau sampaikan. Maklum, perempuan banyak maksud tersiratnya kan? #huft

7 tahun tinggal di Jakarta, membuat saya matang dan cukup dewasa dalam memaknai setiap emosi dan perkelahian. Ketika sekarang saya pulang ke Banjarmasin, saya berusaha menjadi penengah antar 2 kubu yin-yang ini. Ada kalanya saya rasanya ingin mereka berdua pisah saja untuk kebaikan mereka. Di satu sisi lain, hati anak kecil saya masih belum merelakan mereka pergi.

Well, whatever happen happen and what will be will be~

Mereka akan terus berantem kok entah sampai mereka berpisah. Masalahnya bukan lagi di mereka. Tapi, bagaimana setiap anak belajar untuk tidak mengulangi kesalahan mereka, dengan tetap tunduk, hormat dan sayang dengan Mama Papa yang sudah membesarkan mereka.

No one is perfect, just like my parents. And, there is no school for parenting. Jadi mereka salah itu wajar dan layak dimaafkan seperti ketika kita juga melakukan hal itu kepada mereka.

Toh, belum tentu juga kan kalo kita jadi orang tua bisa lebih baik dari pada mereka. So, just forgive them and always give them chances to changes.

Memang traumanya akan susah hilang. Tapi saya percaya, sedalam apapun luka jika diobati terus menerus pasti kan sembuh meskipun memakan waktu dan usaha.

Family’s key of happiness are to forgive the hard feelings while presenting sincere heart.

Good luck and be happy 🙂

Review Novel : Stephanie Zen, More Than Words (Rate : 2.5/5)

Harus di akui kalau aku cinta banget sama novel-novel Metropop! Dari SMA, kuliah hingga sekarang, entah kenapa gampang banget nyantol dengan novel-novel kategori ini. Pokoknya kalau lagi jalan ke Toko Buku, sadar ga sadar pasti deh ujung-ujungnya buku yang dibeli salah satunya adalah novel Metropop. Begitu sampai rumah baru sadar, ya elah Metropop lagi! :))

Words mean nothing, unless the person who speaks it… is your everything. – hal 5.

 

cup3

Stephanie Zen, More Than Words

Diterbitkan 2015 | 224 halaman

Novel ini bercerita tentang kisah percintaan Marvel dan Rania yang sama-sama kuliah di Singapore. Mereka bertemu di Gereja dan pelan-pelan menyadari bahwa mereka saling menyayangi satu dengan yang lain. Namun, untuk memulai hubungan ternyata tidak gampang itu karena ada masalah-masalah lain yang harus mereka selesaikan sebelum memulai hubungan ini.

Mulai dari Rania yang minder dengan jomplangnya keadaan finansial mereka berdua, Marvel yang tidak dapat restu pacaran dari orang tuanya, sampai Marvel yang beberapa minggu lagi mau kuliah S2 di Amerika! Duh!

I date to marry, not to fool around. So if I can’t see it happening, I’m not gonna waste my time and hers. – hal 79

Saya selalu merasa kekuatan dari Stephanie Zen adalah kemampuannya menorehkan cerita yang real dalam sebuah buku novel fiksi. Buku ini adalah novel kedua karya Stephanie Zen yang saya baru saja selesai saya baca. Sebelumnya saya pernah membaca A Week to Forever (2014) yang membuat saya speechless dan baper luar biasa setelahnya. Story line-nya real banget dan mungkin aja terjadi beneran di dalam kehidupan saya! After effect-nya, saya bener-bener ngarep bahwa suatu saat saya begitu juga!

After effect yang sama saya kurang rasakan saat membaca buku ini. Memang buku ini sepertinya adalah kelanjutan dari A Week to Forever, tapi dengan cerita dan tokoh yang berbeda. Background tempat dan lainnya masih sama yaitu di gereja God’s Love dan sama-sama di Singapore. Sayangnya justru saya lebih suka buku sebelumnya karena ceritanya lebih dalam dan kompleks 🙂

Some people just don’t know how strong the word “love” is. Everyone can say “I love you” but not everyone really mean it, right? – hal 146

Cerita dalam buku ini jauh lebih ringan dari pada pendahulunya. Jujur, dua chapter terakhir saya hanya screening saja karena dari bab-bab awal saya sudah bisa menebak bagaimana akhir ceritanya.
Karakter dalam buku ini juga kurang greget. Marvel agak terburu-buru dan emosional sedangkan Rania mudah galau. Padahal diceritakan Rania adalah seorang mahasiswi beasiswa yang pekerja keras, sampai-sampai bisa memenang Olimpiade Biologi. Di usianya yang masih SMA aja dia sudah ngopi, begadang dan baca banyak jurnal-jurnal penelitian hanya demi memenangkan Olimpiade Biologi dan mendapat beasiswa kuliah. Harusnya dengan semangat juang yang sama, dia bisa jadi karakter protagonis perempuan yang lebih tough dong? Ini kok soal cinta jadi mudah bimbang dan menye-menye gini? 😦

Pernahkah kamu begitu menginginkan sesuatu, tapi ketika kamu mendapatkannya, kamu begitu binggung dan malah akhirnya bertanya-tanya; sungguhkan kamu menginginkan hal ini? – hal 156

Kalau kamu pecinta kata-kata kutipan seperti saya, kamu pasti cocok dengan novel ciptaan Stephanie Zen. Gaya tulisannya memang memuat banyak kata-kata ‘jeleb’ yang dimuat di setiap lembar demi lembar. Ada yang ditulisa dalam bahasa Inggris, ada juga yang bahasa Indonesia atau campuran keduanya. Oh iya! Quote ‘jeleb’ lainnya akan aku tulis di next post! Pas banget buat isi caption Instagram atau any other social media~ #anakkonten

Tapi jangan kaget kalau kamu menemukan banyak quotes yang berhubungan dengan Alkitab atau hal-hal yang berbau kekristenan lainnya. Maklum ceritanya mereka adalah pemuda-pemudi aktivis Gereja jadi saya rasa wajar jika si penulis menyisipkan beberapa ayat atau kutipan populer dalam tulisannya.

Well yang penasaran, mungkin quote dibawah ini bisa menghilangkan rasa kepo kamu 😉

What does the Word of God say about you? You are worth far above rubies. So please behave likeawise. – hal 86

Namun, sejujurnya memasukkan unsur agama tertentu dalam sebuah novel itu sangat mengundang pro dan kontra. Ada yang pro karena menurut mereka, novel adalah media imaginatif dari dunia fiksi yang tidak memiliki sekat. Penulis tidak seharusnya dibatasi oleh agama, ras, budaya, nilai sosial dan border-border lainnya, karena namanya novel adalah buku bacaan yang sifatnya menghibur dan fiktif. Kalau terlalu banyak hal yang mengekang, bisakah novel tetap jadi sebuah fiksi?

Ada yang kontra dan merasa itu tidak seharusnya terjadi. Agama adalah hal yang harusnya menjadi sesuatu yang sangat privasi untuk setiap individu. Toh masih banyak cerita lain yang bisa angkat, kenapa harus mengambil cerita yang bersinggungan dengan agama? Ada betulnya juga.
Tapi kembali lagi, keputusan untuk membaca dan beropini adalah hak semua orang. Kalau menurut saya sih, porsi ‘agama’ dalam novel ini cenderung lebih banyak dibanding novel karya anak bangsa yang biasa saya baca. Memang tidak ada apa-apanya buku novel luar, seperti The Da Vinci Code dan lainnya. Cuma buat kamu yang cenderung suka ‘main aman’ atau agak sensitif dengan hal yang berbau agama, saya sarankan untuk berfikir dua kali sebelum membeli rangkaian novel Stephanie Zen ini.

Bagi saya, membaca adalah kegiatan melarikan diri dari kenyataan hidup sehari-hari yang tidak jarang pahit. Saya dan buku seperti saya dengan pandora. Dalam kata-kata, saya bisa menjadi apa saja dan siapa saja. Lebih mudah untuk saya melepaskan semua emosi yang menumpuk dan meninggalkannya dalam dunia fiksi supaya tetap waras dalam hidup realita. Oleh karena itu saya benar-benar selektif dalam membaca buku karena saya membaca untuk bahagia, bukan untuk merebutnya.

Selamat membaca! Selamat bahagia!

Rate : 2.5/5

Jangan ke Jakarta Nanti Kamu Rusak!

banjarmasinks
Pasar Terapung, Banjarmasin, Kalimantan Selatan.

Saya lahir dan dibesarkan di Banjarmasin, Kalimantan Selatan. Sewaktu saya masih duduk di bangku sekolah, saya sering sekali mendengar orang-orang yang umurnya lebih senior dari saya berucap demikian. Mostly mereka adalah teman-teman Mama dan Papa, yang anaknya sudah di sekolahkan terlebih dahulu ke luar pulau.

Alhasil waktu saya masih kecil, lebih sering liburan ke Surabaya daripada ke Jakarta. Alasannya bervariasi, mulai dari Jakarta tidak aman, Surabaya dekat, Surabaya lebih murah, Jakarta macet, environment Surabaya lebih ramah, dan masih banyak lagi.

Untungnya, Papa dulu pernah bersekolah di SMP Katolik Ricci, Pancoran sehingga pernah mengalami sendiri hidup di Jakarta. Kalau tidak, saya rasa sekarang saya bukan jadi sarjana jebolan STIKOM ibukota, tapi saya bisa-bisa cuma diploma dari Universitas swasta Surabaya 😦

Sekejam-kejamnya ibu tiri, lebih kejam ibu kota. – Pepatah.

Pepatah berikut mungkin bisa mewakili kekhawatiran masyarakat daerah kala itu, yang bahkan sisa-sisanyapun belum bisa hilang hingga sekarang.

Jakarta digambarkan sebagai sebuah kota yang dingin, kejam dan tidak mengenal belas kasihan. Kota yang tidak aman dan tidak ramah untuk perempuan dan anak-anak, kota dengan image sangat kotor, sehingga kalau ada anak perempuannya mau liburan ke Jakarta tanpa ditemani saudara laki-laki atau orang tuanya, pasti tidak di kasih ijin.

Hal tersebut terbentuk berkat karya agung media dengan kekuatan framing-nya yang luar biasa intens sehingga tercengkram kuat-kuat dalam benak masyarakat. Tayangan-tayangan acara kriminal seperti Sergab, Buser, Patroli dan lainnya sedang naik daun setelah orde baru tumbang. Persis seperti tayangan kompetisi dangdut sekarang ini. Tidak kunjung usai!

Seperti racun yang disuntikkan secara perlahan, tayangan yang sifatnya menakut-nakuti tersebut semakin memperteguh keyakinan mereka tentang Jakarta.

Menurut penelitian, ketakutan akan berdampak 34% terhadap kenaikan rating dan terbukti lebih cepat dalam menyebarkan berita tersebut. Alhasil ini sangat berpengaruh terhadap pandangan dan presepsi orang “kampung” terhadap citra ibukota. Berita melulu soal demo, kemacetan, banjir, kekerasan, tauran, penculikan, pemerkosaan, narkoba dll disiarkan lebih dari 12 jam setiap hari saat prime time! Gimana masyarakat tidak percaya?

Whoever control media, controls the mind. – Jim Morrison

Lalu apakah ini semua ulah media? Menurut saya justru bukan. Media hanya trigger yang efektif selayaknya teori jarum suntik dalam teori komunikasi massa. Namun, apa yang membuat persepsi ini semakin berakar kuat? Tentunya itu berasal dari masyarakat itu sendiri 🙂

Kabar burung, cerita rumpi tetangga dan obrolan di warung kopi memperparah semuanya. Apalagi yang membagikan cerita adalah keluarga atau kerabat dekat, yang dengar juga dari “kata orang”, “kata temen”, “saudaranya ini punya teman punya cerita” dan lain-lain, yang jelas-jelas kita harus pertanyakan sumber dan kebenarannya. Ini yang susah karena kebanyakan dari kita masih menganut clan based recruitment. Anak mana, marga apa, suku apa, agamanya apa, tinggal di daerah mana, keturunan sapa, dan lain sebagainya. Sehingga kita cenderung percaya 100% kepada orang dengan satu ‘klan’ dengan kita meskipun ga tau tuh ceritanya valid atau tidak.

Ditambah lagi, saya sangat percaya tidak ada cerita yang sudah di sampaikan berulang-ulang dari mulut ke mulut yang masih murni 100% sama dengan cerita yang di sampaikan langsung dari sumbernya. Kebanyakan pasti sudah ada MSG-nya!

Misalnya bisikan tetangga tentang anak si Ini dan si Anu yang gagal bersaing di Ibukota. Di kampung mereka selalu juara kelas, tapi sampai Jakarta malah tinggal kelas. Kedua orangnya jelas sudah koar-koar kemana-mana tentang anaknya sekolah di Ibukota. Bangganya bukan main! Gengsi inilah yang menimbulkan perasaan denial (penyangkalan), tidak terima dan tidak mau disalahkan, yang akhirnya membuat kedua orang tua bercerita seolah-olah Jakarta keras dan jahat. Anaknya rusak karena pergaulan buruk. Intinya ini semua gara-gara Jakarta!

Apakah seperti itu kenyataannya? Kita tidak ada yang tahu! Mungkin saja anaknya seperti ayam baru pertama kali keluar sangkar. Sampai Jakarta karena merasa bebas, langsung mendadak liar. Anaknya jadi suka dugem, pulang malam dan mencoba ini-itu, akibat pola asuh yang terlalu keras, tekanan prestasi terlalu tinggi dan dipingit secara ekstrim oleh kedua orang tuanya. Atau, memang anaknya menyerah karena tidak bisa mengikuti pelajarannya. Well balik lagi, kita tidak ada yang tahu.

Menurut analisis saya, alasan tinggal kelas atau nilai yang mendadak anjlok yang sebenar-benarnya adalah standar pendidikan yang SANGAT tidak merata antara pemerintah pusat dan pemerintah daerah. Saya dan kakak saya mengalami sendiri hal tersebut. Kakak saya anak olimpiade MIPA mewakili Provinsi Kalimantan Selatan untuk tingkat SMP, saat ulangan pertama Fisika di SMAK 1 BPK Penabur, Jakarta (2004) mendapat nilai 4!

Tapi asal kita tetap berusaha, belajar dengan baik dan mencoba terus, saya yakin dalam waktu 1 semester sampai 1 tahun, sudah ada kemajuan yang signifikan terhadap prestasi. Tahun kedua, kakak saya sudah kembali jadi anak Olimpiade bidang Kimia.

Nah kalau begitu, lantas kenapa harus menyalahkan Jakarta? Benar-benar, lempar batu sembunyi tangan ya!

Sebenarnya kita percaya karena siapa penyampaikan, bukan apa yang disampaikan.

Saya rasa presepsi kejujuran di Negara ini sungguh sangat aneh dan ganjil. Saya salah satu penganut lebih baik jujur tapi sakit, daripada kebohongan yang keliatannya manis padahal hanya bom waktu untuk sesuatu yang lebih sakit.

Tapi justru kebudayaan Bangsa ini kerap kali memaksa kita untuk berbohong, baik dengan sesama kita maupun dengan diri kita sendiri. Namun, membungkus kebohongan ini atas nama ‘etika’. WOW!

Seperti contohnya orang-orang kaya (read : O.K.B atau orang kaya berjiwa miskin) di kota yang masih ‘on development’. Sebenarnya mereka mau meminta imbalan jasa yang sesuai. Bayar Rp 50.000, dapat sesuatu senilai Rp 50.000 dong! Wajar dong?

Karena tidak enak hati, atau takut di anggap tidak etis, akhirnya diam saja. Bungkam. Kalau di tanya, jawabnya “tidak apa-apa” padahal “ada apa-apa”. Akhirnya jadi membatin sendiri karena sudah jelas berharap dapat lebih tapi tidak berani bicara. Alasannya, ga etis. WOW!

Kemudian, apa hasilnya? Muncullah kebudayaan diem-diem saking tusuk dan main belakang yang diturunkan lintas generasi hingga sekarang. Bahasa banjarnya, Alim-alim Bakut!

Terbalik dengan orang-orang di kota Metropolitan atau Ultra-Megapolitan yang terbiasa ‘main depan’. Semua urusan, termasuk unek-unek, pembagian gono-gini di selesaikan secara terbuka, jelas dan gamblang. Tidak ada sesuatu yang ditutupi, semua detail di bahas bersama, sehingga tidak ada udang di balik batu. Yang ada hanya udang di balik tempura :’) #mencobamelucu

Alias bisa disimpulkan orang kota (yang beneran kota besar, bukan kota nanggung) terbiasa TIDAK BAPER. Masalah kerjaan murni selesai sampai di tempat kerja. Masalah pribadi, seperti putus pacar, mau cerai, hamil, dll adalah masalah rumah yang seharusnya tidak bawa sampai tempat kerja.

Budaya ga baperan (orang kampung baca: ga ada perasaan & sopan santun) ini yang bikin kita ciut ke Ibukota. Tapi menutupi supaya tidak disangka pengecut dengan memproklamirkan bahwa Ibukota itu jahat. Well done!

Sudah enak di kampung, ngapain harus ke Kota. Lebih baik jadi Raja di kampung sendiri, daripada Kacung di kota besar.

Poin terakhir sekaligus yang paling mematikan adalah tidak ingin berpaling dari zona nyaman, alias tidak ada semangat juang, tidak mau berusaha, tidak mau cape, tidak mau susah a.k.a cari aman.

Untuk orang yang tinggal di daerah, sudah terbiasa dengan kemana-mana dekat dan cepat sampai. Definisi macet di setiap kota juga berbeda. Di Jakarta, macet berarti macet. Literally, bener-bener macet sampai tidak bisa bergerak. Tapi, di Banjarmasin misalnya. Macet itu berarti Merayap, atau kadang Ramai Lancar-pun di bilang macet.

Jarak 10 KM-pun sudah berasa di luar kota karena merasa jauh. Padahal sebenarnya hanya memakan waktu 10-20 menit untuk sampai ke tujuan.

Belum lagi kalau daerah itu kekayaan alamnya berlimpah ruah. Banyak emas, banyak buah-buahan, padi tumbuh subur, sayur banyak, mancing mudah dapat ikan, dan lainnya. Wah, apa tuh semangat juang?

Scoop kota yang kecil juga membuat orang tua merasa lebih baik dan aman untuk anak.

“Oh, anakku main ke rumah anaknya temanku.”;
“Sepupuku kerja di Sekolah anakku, sehingga anakku aman dan pasti naik kelas.”;
“Anakku jam 7 malam belum pulang, keliling kota ah, siapa tau ketemu!”.

Di kota Metropolitan, sulit kita dijumpai ‘fasilitas’ nyaman seperti itu. Semua harus lebih terjadwal dan terencana agar hasilnya tepat dan memuaskan. Kalo mau janjian jam 7 malam, harus berangkat kira-kira jam 6 kurang karena takut macet rush hour. Harus tau juga mau kemana karena takutnya melalui jalur macet, dan lain sebagainya.

“Aduh kok mau jalan-jalan aja susah banget?”. Ujung-ujungnya malah berpikir seperti itu karena biasa hidupnya semeraut.

Dibalik semua fakta yang ada adalah sebuah kenyataan manis bahwa kota Megapolitan selalu terbuka untuk pekerja keras yang cerdas dan bisa beradaptasi dengan perbedaan gaya hidup, budaya dan pola pikir ini.

Hanya sebuah kekhawatiran berlebihan yang tidak berdasar mengenai Jakarta bahwa Jakarta itu jahat. Buat saya, Jakarta itu kota peluang dimana kita bisa jadi apa saja di Jakarta.

Karena Ibukota adalah lahan basah untuk orang-orang yang kreatif dan pekerja keras. Jakarta adalah lahan opportunities dan tempat belajar terbaik. Karena selain semua Sekolah unggulan ada di Ibukota, pengalaman hidup yang akan kamu dapatkan di Jakarta menantang kamu untuk terus naik level.

Tapi semua kembali lagi ke diri kamu sendiri. Kalo emang udah dasarnya ada bibit rusak, mah rusak aja. Ga di Jakarta, ga di desa, ga dimana-mana 😉

Sudah Baca Su Tong, Raise The Red Lantern?

Bertemu novel ini tidak sengaja saat main-main ke Bandung, 2012. Tepatnya di sebuah cafe buku kecil tapi sangat homey yang memang bikin betah untuk berlama-lama disana. Nama cafenya apa, mohon maaf saya sudah lupa 😦

Tapi disana lah, sang (mantan) pacar dengan random bertanya “Udah baca ini?”, maklum aku dan dia sama-sama suka baca buku. Saat itu usia saya baru 18 tahun. Buku-buku yang saya baca hanya seputar romantika dan fantasi. Mana mungkin saya pernah baca buku ‘persaingan antar istri’ dengan latar belakang Tiongkok jaman kerajaan?

Eh! Siapa sangka tau-taunya sampai Jakarta, buku ini sudah ditangan saya!

Beberapa hari yang lalu, saat saya memutuskan untuk bersih-bersih, saya menemukan buku ini. Ah! Dari melihat cover depannya saja, saya sudah merasakan emosi sewaktu saya baca buku ini. Jadi kangen baca buku lagi!

Well, 6 tahun bertahan di lemari buku, inilah review dari saya setelah beberapa kali habis membaca buku ini!

IMG_7767Su Tong, Raise The Red Lantern (Rate : 4/5)

Diterbitkan : 1990 | 136 halaman 

 

Kisah bermulai saat Teratai terpaksa harus menjadi istri keempat dari Tuan Besar karena kesulitan ekonomi yang dihadapi keluarganya. Tapi, siapa sangka ternyata menjadi selir tidak seindah yang ia bayangkan?

Setiap hari mereka harus saling menjatuhkan demi menyalakan lentera merah di depan rumah mereka. Tanda bahwa mereka ‘dipilih’ oleh Tuan Besar ketika malam datang.

Istri-istri harus mengatur siasat, saling fitnah, menggunakan ilmu hitam bahkan sampai mempertaruhkan nyawa! Bisakah Teratai bertahan dengan kondisi ini?

Silahkan lanjut baca lengkapnya atau kamu juga bisa nonton filmnya dengan judul yang sama! 😉

RAISE.jpg

Meskipun sudah beberapa kali saya baca, saya tidak pernah bosan dan lupa dengan jalan cerita di buku ini. Alur ceritanya sangat indah, tokoh-tokohnya berkarakter, gambaran situasi yang tajam dan pendekatan budaya juga kental sekali. Membaca buku ini benar-benar membuat kamu bisa merasakan sensasi kehidupan Tiongkok era itu karena penggambarannya sangat jelas dan visual sekali untuk sebuah buku setipis ini!

Saya juga suka cara Su Tong membedah kebiasaan poligami dan kebudayaan yang berlaku di Tiongkok kala itu. Bagaimana cara pandang suami terhadap istri, kebudayaan menikah, nilai anak untuk sebuah keluarga, politik para istri, hingga kelas sosial yang tertanam. Aspek-aspek itu yang saya rasa menjadi bumbu penyedap alami dalam buku ini.

Kalau saya bisa menggambarkan buku ini, saya rasa buku ini seperti roller coaster! Menantang, powerful dan ga bikin bosan! Kamu yang suka baca buku pasti pernah ngalamin kalau sudah setengah baca novel, udah bosan atau kebaca banget akhir ceritanya bagaimana.

Lain dengan buku ini! Buku ini benar-benar kaya isi dan aspek yang bisa bikin kamu larut dalam emosinya. Tiba-tiba aja kamu tersadar kalau kamu sudah menyelesaikan buku ini!

Jadi, “udah baca ini?” 😉

Selamat membaca, selamat bahagia!

Rate : 4/5

 

Kenapa Harus Baca Novel Andrei Aksana, Lelaki Terindah?

Sejak pertama kali keluar di tahun 2004, novel ini sudah jadi bahan diskusi para pecinta novel. Mulai dari temanya yang tidak biasa, storyline-nya yang bikin hati nyeri, tokoh-tokohnya yang berkarakter sampai sudut pandang penulis yang bener-bener ambigu. Emang sebagus itu ya? Well, this is my humble opinion 🙂

coba1

Andrei Aksana, Lelaki Terindah

Diterbitkan tahun 2004 | 224 halaman

Kisah ini dimulai ketika Rafky dan Valent bertemu saat mereka berlibur ke Thailand. Pertemuan tidak sengaja tapi meninggalkan kesan mendalam, hingga akhirnya menjadi kisah cinta antara 2 lelaki alias homoseksual.

Namun banyak hal yang menghalangi mereka bersama. Mulai dari kebudayaan, orang tua, kekasih perempuan mereka dan masih banyak lagi.

Akhir ceritanya gimana? Silahkan baca sendiri karena takut spoiler :’)

 

…Ketika cinta tak memilih jenis kelamin, cinta pun menjadi terlarang… – hal 13

OMG Sudah dari SMP, saya tergila-gila banget sama Andrei Aksana dan semua novel yang dia tulis! Keknya semua tulisan dia, termasuk buku puisinya sudah habis saya baca lebih dari 3 kali deh. Karena saya emang secinta itu dengan kata-kata puitis yang ia buat.

Tapi menurut saya pribadi, Lelaki Terindah bukan novel terindah yang pernah di tulis oleh Andrei Aksana. Trus kenapa hype? 

Aku mencintaimu, karena aku mencintaimu. Tak perlu alasan lain… – hal 217

Pertama, novel ini diterbitkan di tahun 2004, dimana di tahun itu hampir ga ada orang yang membahas tentang LGBT. Dunia LGBT bener-bener masih tabu banget dibicarakan. Bahkan gerakan-gerakan mendukung kegiatan ini juga masih di pandang sebelah mata oleh masyarakat. Di luar negeri aja gitu, apalagi di Indonesia yang baru aja kena Tsunami Aceh 😦 So, waktu pertama kali buku keluar, masyarakat Indonesia shock karena ada satu penulis yang berani mengangkat cerita dari dunia yang sangat tabu ini. Hasilnya novel ini jadi sangat fenomenal dan meledak di pasaran!

Akulah tempatmu menggantungkan hidupmu, Val. Akulah tempatmu menyandarkan harapan… – hal 183

Kedua, mungkin banyak yang tidak tahu bahwa pergaulan antara sesama gay (homo seksual) itu sangat kuat dan intim. Yes! Mereka benar-benar solid, setia dan support satu dengan yang lain. Kenapa bisa begitu? Pertama, karena mereka sangat welcome. Kedua, meskipun mereka memiliki background yang berbeda, tapi mereka merasa satu nasip. Sama-sama dianggap ‘tidak wajar’, dianggap melanggar norma, melenceng dari agama dan lainnya. Mereka yang minoritas ini merasakan penderitaan yang sama, pengalaman dan cinta yang sama, yang ujung-ujungnya membuat mereka punya rasa empati satu dengan yang lain. Plus di tambah lagi mereka welcome, udah deh jadi merasa punya keluarga baru yang mengerti isi hati dan ‘kelainan’ mereka. Klop!

Trus apa hubungannya sama hype-nya buku ini?

Novel ini menjadi trigger dari para kaum homo seksual untuk menunjukan eksistensinya. Mereka yang dulunya dipaksa ‘bungkam’, kini mulai bisa menampakan diri. Apalagi kalau kamu cermati baik-baik dengan gaya penulisan Andrei Aksana, siapa sih yang tidak jatuh cinta membaca kisah ini? Andrei Aksana tahu betul bagaimana mengolah kisah cinta ‘tidak wajar’ ini seakan sebuah romansa yang indah.

Alhasil, banyak banget dukungan untuk Andrei Aksana saat buku ini keluar. Cerita-cerita tentang beragam kisah tabu-pun bermunculan di Indonesia. Ada yang bercerita tentang lesbian, trans gender, BDSM, dan lainnya. Tapi kembali lagi, apakah itu semua gara-gara Andrei Aksana? Apakah Andrei Aksana pionir novel bertema LGBT di Indonesia? Saya tidak tahu dan jujur, saya belum mempelajari lebih lanjut soal ini.

Yang pasti, semenjak meledaknya novel ini di pasaran, saya mulai melihat banyak buku-buku bertema LGBT bermunculan. Apakah itu kebetulan atau hanya ingin ikut-ikutan mencoba terkenal seperti pendahulunya? Tidak ada yang tahu 🙂

Apakah hal itu baik? Gw sih merasa iya, karena menutupi permasalahan bukan jalan keluar yang baik dari sebuah masalah.

Mengapa kebenaran justru membuat kita selalu merasa tersiksa? Barangkali karena kebenaran telah lama terpenjara… – hal 18

Yang saya suka dari Lelaki Terindah adalah sudut pandang-nya yang sangat meninggalkan bekas mendalam. Dari semua novel Andrei Aksana yang pernah saya baca, Lelaki Terindah juara 1! After effect habis baca novel ini bikin kamu bisa bertanya-tanya sendiri. Jadi ‘aku’, si penulis novel ini si mas Andrei ya? Ih, mas Andrei homo ya? 

Kalo secara tema, mungkin bisa juara 2 atau 3 karena Cinta 24 Jam dan Janda-Janda Metropolitan jauh lebih sadis daripada Lelaki Terindah. Sayangnya kedua novel ini agak susah ditemukan, khususnya Cinta 24 Jam. Kemarin aku juga dapatnya di toko buku loak di daerah Blok M, Jakarta. Tapi percayalah kalo kamu sudah baca kedua novel itu, kamu akan merasa hal yang sama 😉 #racun

Story line-nya saya rasa cukup sederhana, ciri khas novel Andrei Aksana banget. Karakter tokoh-tokoh yang di angkat juga tipikal tokoh yang ada di novel Andrei Aksana. Eksekutif muda yang jantan, mapan, oke banget, gagah, ganteng dan menawan. Kalau ada peran perempuannya-pun pasti yang ga kalah glamor dengan tokoh prianya. Well, kalau kamu penggemarnya mas Andrei Aksana, kamu pasti juga paham banget sama poin yang ini 😉

Tapi bagaimanapun saya tetap merekomendasikan buku ini sebagai salah satu buku yang patut kamu baca. Buku ini akan membuka mata tentang kehidupan ‘mereka’. Bukan untuk membuat kamu jadi pro LGBT, tapi lebih membuka mata dan pikiran terhadap kenyataan yang ada, yang selama ini ditutup-tutupi.

Well, selamat membaca, selamat bahagia!

Rate : 4/5

Flower, My Way of Life.

Aku meyakini bahwa setiap manusia hidup layaknya bunga. Bagaimana fase kehidupannya, cara ia bertumbuh dan akhirnya merekah hingga mati dalam sekejap mata. Apa sih yang bisa kita petik dari kehidupan bunga?

IMG_6809
Rheinfall, Switzerland, EU (2018)

Bermula dengan bagaimana bunga tumbuh karena dukungan orang lain. Pernahkah kita melihat bunga bisa tumbuh sendiri tanpa ada daun si dapur fotosintesis, batang yang kokoh dan akar yang menyokong kehidupannya? Pernahkah kamu menyadari hidupmu adalah bukti cinta lingkungan dan orang sekelilingmu, bahkan sepahit apapun latar belakang dan masa lalu yang kamu alami?

Sama seperti kita hidup dengan kelas sosial, demikian bunga. Ada beberapa jenis bunga yang sengaja ditanam untuk dipertontonkan. Ia bak putri yang di pinggit di Istana dengan puluhan dayang-dayang. Ia didandani sedemikian rupa hingga sampai saatnya ia cukup dewasa, Raja akan mengarak Putri untuk dikagumi oleh setiap mata yang memandangnya. Bunga kelas A, sekelas Putri Istana.

Adapun bunga liar. Ia tumbuh di tepi-tepi jalan dengan perawatan yang nyaris tidak ada. Ia berteman dengan siapapun. Kadang dengan para ilalang, rumput liar, jangkring, tikus dan debu-debu jalan. Bahkan kita sebagai manusia tidak segan-segan menginjak mereka saat berjalan. Ada juga yang bahkan tidak menggangap mereka sebagai bunga. Bunga kelas D, kaum yang tidak diharapkan.

Tapi apakah dengan beragam kondisi yang mereka alami, bunga pernah menyerah untuk mengeluarkan sisi terbaiknya? Apakah kita pernah melihat bunga memilih untuk tidak mekar dan mati saja?

IMG_6799
Colmare, France, EU (2018)

Setiap bunga punya cara dan waktunya sendiri. Mungkin ada beberapa yang cepat merekah dan sangat indah karena ia di tanam ditanah yang subur. Ada juga yang lambat dan merekahnya-pun tidak sempurna karena kurang air. Tidak ada yang salah dengan siklus ini karena bagaimanapun kondisinya, setiap bunga pasti akan merekah. Seberat apapun kondisi tempat ia hidup, sekeras apa gempuran yang harus ia rasakan dan seberapa lama ia harus menanti, setiap bunga pasti akan mengeluarkan apa yang terbaik daripadanya disaat ia sudah siap.

If we could see the miracle of a single flower clearly our whole life would change – Buddha

 

Dongeng Sebelum Tidur ala Agnes Jessica

Kalau bisa memilih siapa sih penulis wanita lokal favorit, saya bakal sepenuh hati memilih Agnes Jessica! Terkhusus semua bukunya yang ia buat sewaktu dia masih ‘gila’. Kegilaannya yang memang serem-serem membawa berkah, membuat Agnes Jessica mudah sekali membawa kita masuk ke dalam dunia kata-kata. Story line-nya jagoan! Imajinasinya kacau! Pokoknya apapun yang waktu itu Agnes Jessica publish sebagai sebuah karya, saya akan beli semuanya dengan senang hati! Tak peduli harus ga jajan berapa hari gara-gara itu 😦

IMG_7770

Agnes Jessica, Dongeng Sebelum Tidur (Rate: 4/5)

Diterbitkan 2004 | 216 halaman

 

Dongeng Sebelum Tidur berkisah tentang Kiara yang terpaksa nikah dengan Cadenza (read: Denny), demi melunaskan utang budi ayahnya. Kiara yang terlalu sayang dengan keluarga, mau ga mau harus putus dari hubungannya yang backstreet dengan Aldi, cinta pertamanya yang ketemu saat mereka kuliah di fakultas ilmu Psikologi UI. Juga merelakan kehidupannya karirnya karena ia baru saja lulus dari kuliah. Belum sempat mempraktekan ilmu yang ia pelajari, ia harus mendekam di rumah sebagai ibu rumah tangga.

“Cinta antara dua insan tak harus bersatu dalam pernikahan. Cinta kita akan selalu abadi, tak lekang karena waktu dan tempat.” – hal 9

Tapi mau sebaik apa, namanya bukan jodoh akhirnya putus juga. Kiara yang berhati besar berinisiatif untuk datang ke rumah Denny H-1 sebelum pernikahan. Rencananya mau kenalan dulu, ya kan? Karena ga lucu nikah bahkan ga tau yang dinikahin mukanya begimana :’)

Ternyata kedatangan Kiara yang mendadak ini, membuka mata Kiara tentang sosok keluarga Denny. Mulai dari rumahnya yang ‘dingin’, kakaknya yang ternyata punya gangguan jiwa, sampai ibu Denny yang terlalu otoriter kini sedang di rawat di Rumah Sakit karena mau meninggal. Kiarapun mulai meragu, apalagi mengetahui Denny pun tidak ada di rumah bahkan tidak berinisiatif menemuinya.

Show must go on, mereka pun akhirnya menikah. Kiara yang kesepian memutuskan untuk coba-coba menyembuhkan Charles dengan ilmu yang ia dapatkan saat kuliah. Tapi apapun usaha yang dilakukan Kiara, Denny selalu ga setuju. Kiara jadi makin galau. Bahkan niat baiknya pun tidak didukung oleh Denny. Haruskah dia tetap hidup bersama Denny yang dingin, atau kembali ke pelukan Aldi yang selalu mendukung keputusannya?

“Kau benar, cinta itu adalah sesuatu yang sekejap tapi kau salah bila mengira dengan cinta bisa bahagia. Pasangan jiwa adalah untuk orang yang saling mengerti dan memahami. Satu orang membantu yang lainnya melewati kehidupan ini. Perasaan cinta hanya hadiahnya.” – hal 130

DONGGENG2

Jujur saya suka banget dengan novel yang satu ini karena background para tokohnya kuat. Sayangnya banyak review yang bilang, mereka tidak suka dengan karakter Kiara yang dirasa terlalu lemah. Yah, tipikal Princess yang harus di selamatkan Prince. Tapi buat saya, tipikal keluarga yang seperti ini justru sebenarnya paling real di kehidupan sehari-hari. Bukan masalah Kiara yang lemah, tapi bagaimana kedua orang tuanya yang terlalu dominan sampai-sampai anak bawel dan periang seperti Kiara akhirnya merelakan diri jadi kambing hitam. Wow!

Banyak orang suka membaca buku dan cerita yang isinya anggan-anggan. Tulisan-tulisan mereka menjual mimpi dan harapan. Bukan berarti itu salah. Saya juga suka baca novel dan karangan-karangan yang seperti itu, sebagai pelarian dari kesepian dan kenyataan pahit sehari-hari. Tapi kadang kita butuh cerita yang membuat kita tidak lupa kita masih napak di bumi 🙂

“Mengapa aku begitu ambisius mengejar sesuatu yang sebenarnya bukan segalanya di dunia ini?” – hal 14

Dari segi cerita, menurut saya sih biasa aja. Ga sepowerful “Piano di Kotak Kaca” atau “Jejak Kupu-Kupu” yang bener-bener bisa membuat gw termehek-mehek.

Tapi, bukan berarti ceritanya plain loh. Kamu tetap bisa merasakan beragam emosi di sana. Geregetannya tetep dapet, senyam-senyum sendirinya juga, tapi ga sampai nangis bombay 😉

Overall, kalau kamu mau cari novel yang ga terlalu berat tapi bukan seringan teenlit, kamu bisa coba baca novel ini. Lumayan tipis, kata-katanya mudah dicerna dan baru-baru ini mereka mau menerbitkan ulang.

Selamat membaca, selamat bahagia!

Rate : 4/5