Pilih Aku Ya? – part 4

Beberapa hari berlalu dan kesibukan kantor membuat Mila lupa diri. Lupa dengan kata-kata yang kangen belaian jarinya, blog yang mengantuk karena lebih dari seminggu tidak di update dan buku-buku mati kebosanan menunggu untuk dibaca. Sabtu malam sudah ditetapkannya untuk menebus kerinduannya.

“Mil, sabtu malem nanti temenin Mama ya.” kata Mama di telepon membuat Mila menahan nafas, “Ada acara di rumah Jaya, temen SMP Mama di SMPN 6.”

“Jam berapa Ma?”

“Jam 7an lah. Katanya habis magrib sih. Jadi cukuplah buat kamu mandi dan beres-beres.” jawab Mama lagi sebelum menutup sambungan telepon. Mila hafal semua gaya menelpon Mama. Kalau tiba-tiba di putus sebelum kita bisa melanjutkan percakapan, berarti ini harus dan tidak boleh di bantah/dipertanyakan.

Di dalam ruangan kerjanya, Mila melihat ke langit-langit dinding. Menarik nafas dalam sambil menutup matanya.

Apa harganya seorang manusia jika ia masih hidup dalam bayang-bayang orangtuanya? Tanpa sadar ia terjajah dan menjual diri untuk sebuah arti pengabdian.

Tidak butuh berapa lama untuk Mila siap-siap. Acara kali ini di adakan di rumah Bpk Muhammad Hijayatullah, seorang mantan ketua DPRD Kalimantan Selatan yang sosoknya masih sangat berpengaruh hingga sekarang. Dari kakek bunyutnya dulu adalah seorang raja tanah. Hampir seluruh tanah yang ada di daerah Kalimantan Selatan dan Tengah adalah milik keluarga mereka. Untungnya mereka sangat pintar dalam mengelola keuangan. Sesuatu yang jarang di dapatkan pada masyarakat lokal.

Mungkin karena salah satunya karena mereka suka kawin silang dengan etnis lain. Sepuluh kali menikah dengan wanita Arab dan 8 orang menikah dengan wanita beretnis Tionghoa. Perempuan-perempuan hebat ini lah yang menjaga keluarga besar mereka tetap berkuasa, berduit dan ber-power dari jaman penjajahan dulu hingga milenial sekarang ini.

Sebagai salah satu orang paling di hormati, disegani dan di dengarkan pendapatnya; Pak Jaya, demikian panggilannya; tidak hidup selayaknya Pak Haji kaya biasanya. Ia tidak sombong, egois, cari muka dan menggunakan kekuatannya semena-mena. Justru ia sangat merakyat dan merendah, dan terasa wajar sampai sekarang ia masih dikenang sebagai pejabat terbaik sepanjang sejarah perpolitikan di kota Banjarmasin.

Anak-anaknya pun tidak diorbitkannya untuk meneruskan tahta politik. Pak Jaya lebih memberikan kebebasan untuk masing-masing anak menjalani mimpinya. Berbanding terbalik dengan Mila, yang harus menelan pil pahit untuk meneruskan usaha kedua orangtuanya. Membunuh passion dan panggilan hidupnya untuk sebuah senyuman di wajah Papa dan Mama.

Bersama Mama, Mila berjalan masuk ke rumah Pak Jaya yang di dekor sedemikian rupa dengan dekorasi merah maroon yang dipadukan dengan ornamen berwarna emas. Dua warna yang sangat menonjolkan keanggunan di usia manula.

Bahkan sebelum masuk ke dalam ruangan, Mama sudah hilang entah kemana. Dia memang suka begitu. Kalau ketemu teman-temannya, suka lupa diri. Mila mau tidak mau melangkah kakinya ke pojok makanan. Satu-satunya tempat ia merasa tidak asing, apalagi saat perutnya protes mencium aroma lezat!

“Sendirian aja Mba?” tanya suara laki-laki di belakangnya. Suara berat dan rendah itu terdengar seksi dan melemparkan gelayar dari belakang leher, pusat suara itu. Mila yang lagi menyendok capcai di hadapannya, mau tidak mau langsung membeku. Hilang sudah selera makannya saat ia berbalik badan dan menemukan laki-laki itu menatapnya dengan mengulum senyum.


Bukannya gue menentang keputusan Bunda, tapi gue selalu merasa bahwa pesta adalah hal yang sangat menguras energi. Gue selalu binggung kenapa Ayah dan Bunda suka sekali mengadakan pesta seperti ini. Di rumah kami pula! Berbasa-basi dengan (yang katanya) temen baik mereka, harus terlihat ramah dan murah senyum. Aduh mending gue panas-panasan ke perkebunan kopi, bantu petani kopi memanen atau menggangkat biji kopi yang karungan sampai mandi keringet!

Gue memutuskan untuk berdiri di samping tangga, paling pojok kanan dari ruangan keluarga tempat semua tamu berkumpul. Setidaknya spot ini paling tidak terlihat dan paling sepi.

“Mau sampai kapan si ngumpet di sana?” tanya Indah, sepupu yang udah gue anggap sebagai adik sendiri. Hari ini Indah terlihat cantik dengan kerudung pink dan terusan brukat putih gading. Jelas gue ingat baju ini! Baju yang mati-matian ia minta belikan saat gue ada acara di Bandung 2 bulan lalu. Gara-gara baju ini, gue nyaris di diss karena telat datang ke venue.

“Mas kenapa si ga mau mingle sama mereka? They look nice, better than last one.”

Gue hanya menjawab dengan senyum tipis. Indah cuma geleng-geleng kepala melihatnya lalu pergi saat ada seorang Koko-koko seumurannya memanggil.

Suara ketawa melengking ibu-ibu membuatku menoleh ke arah pintu masuk, sekitar 30 langkah dari tempat gue berdiri sekarang. Tapi yang membuat gue terpaku adalah sosok gadis yang gue kenal. Gaun putih sleeveless tanpa motif jatuh tepat di badan kurusnya, melekuk di bagian-bagian yang tepat dan berhenti tepat di atas lutut. Sedikit riasan membuat gue pangling, apalagi dengan rambut yang biasa di ikat kini dibiarkan mengurai lembut. Menampilkan wajah orientalnya yang bulat, putih dan feminim. Tapi terlihat sedih, bosan dan jenuh. Persis sama yang gue rasakan setiap pesta.

Dari posisi sekarang, gue bisa dengan jelas mengawasi gerak geriknya. Mukanya yang bete karena tiba-tiba Mamanya memilih bersama dengan temannya, dan ekspresi laparnya saat melihat bagian katering di sayap kiri ruangan, berbatasan dengan taman samping.

Yes! Akhirnya gue menemukan sesuatu yang menyenangkan di pesta ini. Gue menepuk bahu Mas Rahit, penjaga sound system yang posnya ada di sebelah tempatku berdiri dan melangkah menuju arahnya berdiri.

“Oh-eh, hei Mas! M-Mas.” tanyanya gugup dan tersendat-sendat. Matanya tidak bisa fokus melihat ke satu titik. Kadang ke piring yang ia pegang, lalu ke kiri-kanan dan kembali ke mataku. Dari sudut mata, gue bisa melihat ia meletakan piring ke meja di belakangnya. Rupanya nafsu makannya sudah hilang.

Gue menikmati kecanggungan ini. Kikuk dan salah tingkahnya membuktikan bahwa diantara kita ada apa-apa. Entah apa fantasinya selama ini, tapi gue suka.

Belum pernah gue dekat ini dengannya. Ternyata dia tinggi juga, apalagi dengan sepatu hak tinggi yang ia pakai sekarang. Untungnya hari ini gue pakai pantofel! Bau lemon dan segar tangerine dari jarak 30cm membuat kabut pikiran gue. Oh, rupanya harum badannya secantik eye-smilenya ketika tertawa.

Hei, jantung! Kenapa dengan aromanya saja, kamu sudah berulah? Aku bisa mati muda kalau kamu begini terus tau?

Musik tiba-tiba menggema di seluruh ruangan dan membuyarkan tense diantara kami. “Keluar aja mau ga? Berisik banget.” ucap gue yang disusul dengan anggukan kepalanya yang agak sedikit ragu.

Kami duduk di ayunan kecil di taman belakang. Untuk pertama kalinya gue bisa duduk dengan santai dan berbicara dengannya di luar tempat kerja kami berdua. Di luar tokonya atau coffee shop gue.

“Loh piringnya mana? Ga jadi makan?” kata gue saat melihat kedua tangannya saling mengait di atas gaun putihnya. Dari jarak sedekat ini, gue bisa memandangi wajahnya jelas. Hidungnya yang mungil, pipi tembemnya, bibirnya yang ternyata tebal juga dan-

“Gimana mau makan kalau lagi nyendok capcai, Mas ajak keluar?”

Gue menangkap nada kesal dari jawabannya lalu gue menjawab “Ya udah kalo gitu, yuk masuk lagi.”

Mila menghela nafas sebelum menjawab dengan senyum jahil, “Basi! Udah keburu hilang lapernya. Satu-Nol buat Mila.”

Perempuan ini sungguh bisa mempermainkan hati gue. Gue kira dia beneran ga suka di bawa keluar. Ternyata dia cuma ngerjain gue. Asem!

“Mas ngapain di sini?” tanyanya lagi.

“Ya sama kayak kamu.”

“Mati kebosanan di acara ‘temen’-nya Mama-Papa?” ledeknya.

“Engga, cari jodoh.” candaku.

“Diem-diem genit juga ih! Tapi orang seaneh Mas sih pasti susah punya pacar. Becandaannya suka garing sih!” jawabnya sambil tergelak tawa. Gue suka melihat Mila tertawa. Apalagi kalau dia bisa tertawa karena gue. Matanya yang sipit bisa berubah menjadi segaris berbentuk “U” terbalik. Manis banget minta ampun!

“Buat apa kita berpura-pura menjadi normal kalau sebenarnya diri kita tidak dicetak untuk itu?” Gue menjawab sambil mengeja kata demi kata dengan seksama. Tetapi langsung di respon dengan mukanya yang melongo tidak percaya.

“Duh Mas! Pantes aja lu ga punya pacar.”

“Kenapa? Terlalu tinggi untuk di resapi ya? Tenang, semuanya itu akan lebih mudah di pahami ketika di jalani.” Gue menjawab sambil terkikih menahan tawa melihat mukanya yang mulai cemberut.

Kami bertatapan dibawah bulan purnama yang lagi terang-terangnya. Suara degub jantung saja yang bisa kami dengar saat itu. Lagi-lagi gue diyakinkan kalo perasaan gue bukan cuma kagum dengan gadis cantik. Tapi ada sesuatu yang lebih disana. Sayang? Cinta? Gue sendiri belum bisa menjawabnya.

Sinar matanya lembut tapi penuh keraguan. Gue tau banyak pertanyaan di benak Mila sekarang. Tapi apapun pertanyaannya, gue yakin bisa menjawabnya dan merebut hati Mila. Lalu, ia mengelos seperti yang biasa ia lakukan. Ga papa. Setidaknya gue udah bisa menatap matanya lebih lama.

“Keknya lu kebanyakan baca Dilan deh! Udah ah gue masuk aja.” katanya kesal.

Ia mendadak berdiri dari ayunan, membuat kursi bergetar dan ujung-ujungnya membuatnya limbung. Gue berhasil menangkap pergelangan tangannya tapi ditepis dengan kasar. Lalu ia melangkah pergi ke arah rumah.

“Yah masa gitu aja ngambek?” tanyaku cukup keras membuatnya yang sedang berjalan tiba-tiba berhenti. Otak dan hati ini mendadak ngajak taruhan. Otak bilang kalau gue bego. Jelas-jelas dari responnya yang minim, dia ga punya perasaan yang sama, alias dia menolak! Liatin aja, dia ga bakal mau balik badan, Dit!

Sedangkan hati gue percaya kalau masih ada kesempatan. Dia suka gue, dia bakal suka sama gue, dia sudah suka sama gue! Apapun keadaan hatinya sekarang, gue tetap bakal kejar. Pantang lelaki mundur saat mengejar cinta! Ah-yeah!

Beberapa detik serasa beberapa jam! Sampai akhirnya hati teriak kegirangan saat ia menengok. Ah, you got her, man! Gue berasa senyum gue udah di luar batas kewajaran, meski Mila melemparkan wajah cemberut ke arah gue. Otot-otot wajah gue udah teriak saking gue sumeringahnya. Mungkin karena ini kali pertama mereka bekerja kembali setelah terlalu lama di biarkan menggangur.

“Udah stop cengengesannya! Ayo balik! Nanti capcainya habis!” jawabnya sambil mengulum senyum dan meneruskan langkahnya.

Dari tempatku sekarang, aku melihat pantulan bulan yang terpancar dari gaunnya. Bahkan dari belakangmu saja aku sudah suka. Apalagi kalau aku melihatmu setiap hari?


Mila masih deg-degan saat ia melangkahkan kaki kembali ke rumah Pak Jaya. Tangannya sedingin ukiran Naga dari es batu yang terpajang di halaman depan rumah ini. Kakinya selembek jelly dan jantungnya bekerja di luar normal. Untungnya tadi di ruang terbuka yang minim penerangan, Mila udah kuatir kalau-kalau Mas Adit bisa melihat rona merah yang muncul di pipinya saat mereka duduk berdua tadi.

Berdua dengan Mas Adit dengan jarak tidak lebih dari 30cm membuat Mila kesetanan. Benar hipotesisnya kalau laki-laki ini terlalu bahaya! Mila tau lebih baik ia menjauh, tapi ia tidak bisa. Kehadiran Mas Adit membuatnya nyaman dan ada semacam magnet yang menarik Mila. Sekali dia ada, Mila tidak bisa lepas.

Apalagi tadi, Mila benar-benar ga di kasih kesempatan buat beranjak sedikitpun. Tatapannya fokus hanya untuk Mila dan senyuman di matanya itu loh! Aduh Mila kuatkan hatimu dong!

Mila berusaha mengalihkan perhatiannya ke aneka menu prasmanan di hadapannya. Meski perutnya melilit dan nafsu makannya hilang, makan adalah satu-satunya cara agar ia bisa jauh-jauh dari Adit. Untungnya sekarang tidak terlalu mengantri dan semua menu tetap masih penuh dalam tempat-tempat sajian.

Pelayan perempuan dengan sigap menyodorkan sendok, garpu dan sebuah piring putih untuk Mila. Seusai mengucapkan terima kasih, Mila menyendokan nasi putih, udang mayonaise, telur balado, ikan asam manis dan capcay sebagai menu terakhir. Puas dengan menu yang ada di piringnya, Mila mencari kursi kosong di pojokan supaya ia bisa makan dengan tenang. Ah, dekat sound system di bawah tangga oke tuh.

Riuh canda dan tawa menemani makan Mila. Memang betul kata Mama kalau Pesta Pak Jaya selalu luar biasa. Semua menu yang ia makan, semua enak-enak! Ga kalah dengan hotel bintang lima! Desain tempat, suasana pesta, kebersihannya sampai kondisi makanan di atur sedemikian rupa. Makanan dan minuman tidak pernah di biarkan habis. Selalu bisa makan kapan saja dan sebanyak-banyaknya! Nyam!

Mila tersedak saat sendok terakhir masuk ke mulutnya. Bagaimana tidak! Tiba-tiba Mas Adit duduk di sebelahnya. Tepat di saat babysitter yang tadi duduk di sebelahnya, berdiri dan menemani anak juragannya ke toilet.

Mas Adit tertawa lepas saat melihat Mila yang jadi terbatuk-batuk gara-garanya. Setelah Mila menelan makanannya, Adit menyodorkan segelas air mineral yang di sambutnya dengan cepat.

“Gimana makanannya e-“

“Ni orang bener-bener deh! Bisa ga sih sekali aja ga muncul kek hantu! Suka banget ngangetin orang!” semprot Mila, “Ga kasian apa sama jantung gue?”

Adit jadi ketawa lagi mendengar jawaban Mila, “Engga. Kamu juga ga kasian sama jantung aku kan? Ngeliat kamu mendadak muncul di pesta ini?”

Mila mendelik, “Duh mulai lagi deh. Kalau lu garing, gue masih bisa maksa ketawa. Tapi kalau udah sok gombal gini, gue musti gimana?”

“Ya diterima aja.”

“Apanya? Gombalannya?”

“Perasaannya. Emang ga berasa ya? ” jawab Adit ringan tapi membuat Mila terdiam seribu bahasa.

“Mas tu ngomong apa sih? Kesannya Mas tu suka sama aku, tau ga? Emang iya?” Mila menarik nafas dalam sebelum melanjutan, “Kalau misalnya, aku ternyata ga suka sama kamu gimana?”

Suara Mila bergetar saat mengucapkan kalimat terakhir karena iapun masih ragu dengan perasaannya. Yang ia tahu, ia suka sama Deddy! Menatap wajahnya dari tempat ia duduk, selalu menjadi inspirasi menulisnya. Senyuman ramahnya walaupun cuma sekilas bisa bikin mood Mila hepi seharian. Belum lagi pertanyaan ramah-tamahnya yang bisa membuat hati Mila hangat.

Lalu bagaimana dengan Mas Adit? Kenapa selalu betah tuker pikiran sama Adit? Kenapa milih ngobrol sama Adit ketimbang Deddy? Kalau ga ada perasaan apa-apa kenapa risih kalau ngobrol tatap mata? Kenapa deg-deg an? Trus perasaan sama si Deddy itu namanya apa? Kagum? Kasmaran? Atau apa? Duh Mil! Main api banget sih! Gebet 2 orang di bawah atap yang sama!

“Ya ga papa… Karena sudah kewajiban laki-laki meluluhkan hati perempuan. Aku kejar kamu, yaa?” tanya Adit sambil menatap tajam mata Mila. Kali ini Mila tidak bisa lagi mengelak atau menghindar. Biasanya Mila bisa melengos atau menghindari tatapan mata Adit. Tidak kali ini.

Adit mengunci matanya dengan pertanyaan yang diluar batas kemampuan yang bisa ia terima. Semua terasa terlalu terburu-buru, terlalu cepat, terlalu spontan, terlalu mendadak, terlalu… membinggungkan.

Adit meninggalkan Mila yang kini masih membeku di kursinya. Piring bekas makannya juga masih duduk manis di pahanya. Mila meneguk liur sambil mencoba memutar kembali ingatannya atas semua percakapan tadi. Oh my! Mila… What should you do now?

Iklan

Pilih Aku Ya? – part 3

Terik siang menyerang tanpa ampun kota Banjarmasin membuat Mila makin enggap di gudang hari ini. Bajunya sudah mandi keringat, nota dan surat jalan di tangannya sudah lecek akibat di jadikan kipas dadakan. Apalagi sejak tadi, kontainer ekspedisi tidak henti-hentinya keluar-masuk menggantar barang dan membawa serta debu-debu jalan. Makin panas deh otak Mila. Sambil menyeruput Americano yang tinggal tetes-tetes terakhir, Mila mendengar suara teriakan memanggil namanya.

“Mila! Milaaaaa!” teriak suara itu lagi. Suara yang paling Mila hindari saat ini.

“Apa Ma?” jawabnya masam. Indah, Mama Mila sekarang sedang berdiri tegak di hadapannya. Di usianya yang hampir 60 tahun, Indah masih keliatan segar dan cantik. Sedikitpun tidak ada kerutan, hanya ada flak-flak sedikit di area mata. Sisanya masih oke banget kek umur 40an!

Dari sudut mata Indah, ia bisa melihat jelas gelas plastik yang dipegang anaknya. Meskipun sudah habis, ia tetap tahu apa yang diminum anaknya. Jenis minuman yang paling ia benci.

“Kopi lagi? Sudah berapa gelas hari ini?” Indah mendelik. Mendadak seluruh gudang sunyi sepi. Aura bos bini memang ampuh membuat karyawan lain kerja dalam diam. Entah karena takut di semprot atau emang takut aja sama si ibu bos.

Mila cuma bisa menelan ludah mendengar omelannya. Dia memilih diam.

“Mama sudah berapa kali bilang! Kopi tuh cuma buang-buang duit. Minum air putih lebih sehat! Makanya kamu jerawatan gara-gara kebanyakan ngopi, tau ga?”

Mila memaksa untuk tidak rolling eyes di depan Mamanya. Selain takut Mama makin marah, Mila juga ga mau menjadi contoh kurang baik di hadapan karyawan lain. Mau gimanapun ia tahu persis bahwa semua bisnis yang telah di bangun oleh orangtuanya dengan susah payah, ujung-ujungnya akan dia wariskan.

Selagi Mama ngomel-ngomel, Mila merasa ada getar dari ponselnya yang ia tanggapi cuek. Pasti orang bank nawarin program deposito, atau tagihan dari supplier yang sebenarnya masih lama jatuh temponya.

“Kamu cek deh WA Pak Kusendi. Katanya ada orderan yang keliru.” perintah Mama sambil beranjak kembali ke posnya di bagian sales. Oh! Mila langsung mengecek ponselnya dan mendapati DM dari seseorang yang tidak di sangka-sangkanya. Deddy, mas gemes dari Thousand Dreams!

Semangat ya! Kalau ada waktu, sini ngopi dulu ๐Ÿ™‚

Mila langsung lemes bacanya. Mas Deddy me-reply dari Instastory terbarunya saat beberapa karyawan ekspedisi menurunkan barang. Menggendong dus-dus itu dibelakang mereka bolak-balik dari Truk ke platkayu di lantai-lantai Gudang. Dengan caption pelengkap “Long day a head!” dan filter Melbourne. Lengkap pisan.

Senyum langsung mekar di wajahnya, meninggalkan admin yang terbinggung-binggung melihatnya. “Mba, aku beli kopi dulu ya. Jangan bilang Mama. Aku bentar aja.”

Kamu harus tau kalau di balik secangkir kopi,
ada ribuan pesan terselip.
Sama seperti aku yang melihatmu penuh harap,
dari balik segelas kopi yang kamu seduh.


– Mila

Temen-temen Mila selalu ngingetin Mila untuk lebih ngerem dikit. Gimanapun mereka merasa Mila anaknya terlalu frontal dan agresif. Kalau suka, bilang suka. Kalau mau, langsung kejar sampai dapet. Kalau ga suka, di liat juga engga. Ga cuma dalam kehidupan sehari-hari tapi juga percintaan. Sekali udah penasaran, gas pol! Tapi kalo ilfeel, di lirik juga engga tuh.

Dengan senyum mengambang Mila masuk ke Thousand Dreams. Ga cuma karena ia butuh asupan kafein lagi, tapi ia juga butuh suntikan kebahagiaan. Tapi seketika rona wajahnya berubah saat yang dilihatnya bukan Mas Gemes, tapi Mas lainnya.

“Hallo Mba.” sapanya.

“M-Mas Adit? H-Hai..” jawab Mila mendadak nervous. Kenapa Mila nervous? Jawabannya karena kitapun begitu juga. Suka kan mendadak nervous kalau sesuatu berjalan tidak sesuai dengan yang kita hadapkan? Padahal ga ada alasan untuk perasaan itu masuk, toh kita bisa kok ngatasinnya. Huft, human.

Hari ini Mas Adit terlihat lebih formal dibanding biasa. Kemeja tanpa kerah warna hitam dikancing full hingga leher dan digulung sampai lengan. Dipadu padankan dengan celana chino hitam dan vans sewarna. Tapi bukan apa yang ia kenakan yang bikin Mila jadi deg-degan. Tapi cara tatapannya itu loh, Pak!

Mila yang matanya kecil dan sipit selalu merasa risih dengan tatapan Mas Adit. Tatapan tajam dari mata belonya, seakan bisa menembus bagian terdalam Mila. Mengupas setiap lembar kehidupannya, menelanjangi rahasia yang ia tutupi dan membuatnya lengah. Tatapan matanya itu seakan melihat Mila sebagai mangsa yang siap ia lahap dan santap sebagai makanan utama. Otomatis Mila langsung ciut dan menghindari bertatapan langsung dengan Mas Adit. Mentok-mentok beberapa detik deh.

Sama juga dengan kali ini! Mila langsung membuka menu untuk menghindari bertatap muka. “Ice latte ya satu.”

Mila memutuskan untuk duduk sambil menunggu kopinya datang. Melihat harapannya yang tidak kesampean untuk ketemu Mas Gemes, Mila langsung mengalih pesanannya untuk di take away aja. Radar otaknya hari ini lagi waras jadi ia memutuskan lebih baik tidak lama-lama di sini. Gawat kalau kebanyakan ngomong sama si Bos kopi ini. Daya tariknya terlalu kuat, takut ga bisa lepas.

Ditengah-tengah lamunannya, Mas Adit datang membawa orderannya dengan gelas. Eh tunggu deh? Kok jadi Hot Latte? Lalu kenapa Latte-nya minum sini?

“Oh, Mas. Aku kan mintanya take away?” tanya Mila linglung.

“Temenin ngobrol lah sebentar, mumpung sepi nih. Lagi ga buru-buru kan?” Adit duduk di kursi sebrang Mila. Tiba-tiba dari tangannya, ia mengeluarkan sebungkus ice latte yang sudah di bungkus.

Mila yang lagi menyeruput kopi hangatnya jadi tersedak. Lah? Itu yang di beli, terus yang ia minum ini apa?

“Gimana? Enak ga Lattenya? Beans baru tuh.” ujarnya dengan nada bangga. Mila masih batuk-batuk terpaksa menggangguk. Setuju dengan pernyataan Mas Adit. Kopi yang ia minum sekarang emang enak banget! Rasanya lebih fruity dan jadi enak banget di jadiin latte.

“Dari mana nih Mas? Aku biasanya minum yang Brazil Santos.”

“Ini dari Etiophia. Enak kan? Acid-nya tinggi dan di beli langsung sama petani kopi yang ada di Sidama. Kualitas premium tuh! Makanya beda kan rasanya?” Mila manggut-manggut aja sok ngerti. Jujur Mila tuh ga terlalu tau soal kopi. Tau-tau gitu aja karena dulu pernah magang di coffee shop. Itupun ia ditempatkan di Front Desk, jadi tau jualan aja. Tetek bengek belakangnya sih meneketehe!

“Pagi kek gini sepi ya Mas?” Mila mencoba untuk mengalihkan topik. Mampus malu kalo ketahuan dia ga ngerti apa-apa.

“Kalau di Thousand keknya emang gini. Vibe-nya beda, yang datang juga beda. Mostly sendiri-sendiri datangnya. Jadi mau rame gimanapun juga tetap aja ga berisik.”

“Ga kayak Rumah Kopi ya? Kek lagi pensi?” Mas Adit jadi terkekeh mendengar jawaban Mila, “Apa? Pensi? Pentas seni? Busyet jaman kapan terakhir denger kata itu ya?” tawanya pecah di udara.

Mila jadi ikutan tersenyum melihat tawanya yang lepas. Lalu mendadak mengerutkan dahi saat mendengar pertanyaan Mas Adit, “Kalau kamu, kenapa suka ke sini sendiri?”

“Suka aja kali ya Mas. Kalau di Jakarta sih biasa aja tiap hari ke Coffee Shop dan biasa aja orang sendirian ke Coffee Shop.” Mila offensif.

Mas Adit kini giliran yang mengerutkan dahi tapi melihat Mila yang mulai kurang nyaman, ia mengalihkan topik. Percakapan mereka berhenti saat datang pelanggan lain. Robert kemarin hari terakhir magang, Mas Deddy hari ini shift malem, satunya lagi join training di kedai kopi partner-nya. Jadi mau ga mau Mas Adit sendiri yang jaga dan mengerjakan semuanya sendiri. Milapun mengerti dan pamit pulang saat melihat rombongan pelanggan baru datang. Dari mesin kopi, Mas Adit melepas Mila dengan senyum simpul.


Awalnya gue kira hari ini bakal jadi salah satu hari terburuk gue. Pagi-pagi buta habis sholat subuh, salah satu petani kopi ngabarin kalo 6 bulan ke depan ga bisa memenuhi kuota yang gue minta. Mau ga mau gue harus cari beberapa pilihan petani untuk pasokan beans dengan range yang kurang lebih sama. Ga sampai sejam setelahnya, gue dapat email kalo kiriman green beans Brazil gue nyangkut di pelabuhan Tanjung Priok. Padahal itu primadona di sini! Haduh! Otomatis dalam beberapa hari ini, gue harus kosongin jadwal buat terbang ke Jakarta.

Belum sempat nafas sebentar, jam 5an mendadak si Deddy nelpon untuk minta gue bantuin jaga di Thousand Dreams. Dia ga bisa long shift karena asma ayahnya mendadak kambuh pagi ini. Sambil menyeruput espresso, gue mulai siap-siap membuka hari yang ga ada manis-manisnya ini. Bismillah!

Jam 6.30 gue sudah berdiri di depan Thousand Dreams untuk memulai operasional tempat ini. Biasanya jam 7 kurang sudah ada aja yang nunggu di depan Thousand Dreams. Tim dapur belum keliatan batang hidungnya membuat gue geram. Gimana ceritanya jam segini belum dateng? Harusnya mereka sudah mulai bikin dari jam 6!

Ketiadaan mereka gue pakai untuk meninjau dapur. Emosi gue sudah sampai ke ubun-ubun saat mendapati tumpukan-tumpukan sampah yang berserakan. Kulit-kulit telor kosong di biarkan terbengkalai di beberapa pojok. Wajan, beberapa alat masak dan piring masih kotor ditaruh begitu saja di Dishwasher. Padahal gue bener-bener menekankan kebersihan. Ga heran Deddy laporan kalo ada tikus di Thousand Dreams kalau mereka begini!

Selesai meninjau dapur, gue masuk ke gudang untuk cek stok dan menggambil beberapa barang habis. Untuk urusan bar, Deddy memang jagoan. Itu sebabnya gue memberi dia kepercayaan lebih dari teman-teman barista lainnya. Beans-beans tidak ada yang dibiarkan kehabisan begitu saja. Tidak ada gelas kotor, semua perlengkapan terawat dan bersih. Gue bisa liat dia bener-bener kerja pakai hati.

Pagi biasa di Thousand Dreams cukup ramai. Kira-kira sampai jam 9an lalu mulai surut yang datang. Mostly bapak-bapak yang mau ngantor memilih untuk ngopi sebentar di tempat kami. Itu juga alasan kuat kenapa dulu gue milih tempat ini. Sebuah tempat bekas Posyandu yang bersebelahan dengan office tower dan kantor-kantor pemerintahan. Satu lantai dengan background putih dengan banyak jendela dan taman kecil di depannya. Pas banget buat konsep Scandinavian karena udah homey banget.

Baru saja gue selesai meledak dengan anak-anak dapur, gue melihat Deddy masuk ke Thousand Dreams dengan membawa 2 kantong barang. Deddy cuma tersenyum melihat 5 anak dapur menatapnya meminta tolong. “Kan gue udah bilang beresin. Ga pernah mau denger sih.” celetuknya lalu meminta mereka kembali ke dapur.

“Bawa apa lu? Katanya masuk siang?” tanya gue sambil melihat isi kantong hitam yang dibawanya.

“Baru jaga berapa jam udah suntuk banget lu. Eh iya, ini ada sampel beans dari petani Sulawesi. Udah lama Memet di kiriminin tapi ga cocok keknya jadi dia suruh gue bawa aja. Pas lu telepon, gue jadi inget sama beans ini. Lu coba deh kali aja oke. Tapi nutty dan spicy banget keknya. Beda sama yang kita pake selama ini.”

Gue mengendus baunya yang sangat rempah dan saat mulai memanaskan mesin roasting. Deddy yang dari tadi main hape malah pamit pulang. Alhasil aku matikan lagi mesin roastingnya, kehilangan mood buat ngapa-ngapain. Mana seru cupping sendirian!

Belum saja mesin roasting mati total, suara lonceng bel dari pintu berbunyi. Ide dari Deddy yang gue ketawain keras-keras, ehh ga taunya ternyata guna juga loh! Otomatis mata gue mencari sosok yang datang. Butuh waktu beberapa detik sampai otak merespon siapa yang datang.

“Hai Mila, mau pesan apa?” sapaku yang disambut dengan wajah terkejutnya. Hari ini ia ga kalah cantik dari kemarin. Bedanya rambutnya di cepol ke atas berantakan, baju kaos putih polos seadanya dan jeans biru casual. Bahkan dengan baju biasa kek gini aja gue terperangah. Apa kabar kalau ketemu di kondangan dengan gaun dan make-up cantik? Bisa pingsan kali gue.

“Tumben Mas ngebar. Mas Deddy lagi off ya?” jawabnya mengembalikan hayalanku.

“Tadi Deddy habis dari sini. Baru aja balik. Beneran baru.”

Baru pertama kali gue ketemu cewek model begini. Sudah cantik, pinter, rajin kerja dan tampil apa adanya. Ngomong sama dia apa aja nyambung dan gue ketagihan. Politik dia tau, karena dia suka baca biography dan buku-buku sejarah. Ngomong basket juga dia tau. Ekonomi dan bisnis apalagi. Pokoknya apa aja jadi asik!

Usaha gue untuk selalu menahannya untuk stay lebih lama tidak selalu berbuah manis. Kalau dia lagi ga bawa buku atau laptop, gue berusaha untuk lama-lama berbincang. Anehnya dia selalu datang waktu gue nge-roast. Emang cobaan selalu datang kalo kita lagi lengah ya! Kalo ga ada Gilang yang bantuin, mungkin kopi gue udah jadi arang kali.

Gue juga tidak mau keliatan terlalu mencolok, karena gimanapun perempuan adalah mahluk yang lembut. Semakin di kejar, semakin dia kabur! Jadi seolah-olah semuanya itu natural, padahal mah 100% setting-an. Haha!

Mil, boleh ga sih stay lebih lama buat ngobrol sama gue?
Boleh ga sih sekali-kali balas tatapan mata gue, supaya lu tau isi hati gue yang sebenarnya?

Jika cinta mengajarkan kamu untuk berpura-pura, itu bukan cinta.
Jika cinta mengajarkan kamu untuk berjuang, itu betul cinta.
Jika cinta mengajarkan kamu untuk bertanggung jawab, aku tahu aku jatuh cinta dengan orang yang tepat.

— Adit.

Ayah bilang malam ini Bunda masak. Itu berarti malam ini makan malam di rumah Ayah. Sejak Rumah Kopi berdiri, keuntungannya sedikit-sedikit gue tabung untuk beli rumah sendiri. Gimanapun gue laki-laki yang suatu saat akan mempersunting istri. Jadi semua lebih baik di persiapkan jauh-jauh hari. Toh tinggal sendiri bisa membuat kita lebih mandiri, teratur dan dewasa. Kenapa engga?

Alhasil gue membeli rumah tepat di gang sebrang Rumah Kopi. Rumah kayu sederhana yang waktu itu gue beli cukup murah karena kondisi rumah sudah lapuk. Walaupun sederhana, rumah ini cukup untuk gue dan istri nanti meski membutuhkan renovasi di sana-sini. Jaraknyapun hanya 5 menit dari rumah Ayah. Jadi Ayah dan Bunda tidak harus jauh-jauh jika ingin berkunjung.

“Sabtu depan Ayah ulang tahun. Jadi Bunda bakal bikin acara besar-besaran dan kamu harus datang.” ucap Bunda di tengah-tengah makan malam.

“Another pesta, bun?” Ayah langsung mengulum senyum saat mendengar pertanyaan gue. Tapi pura-pura di tutupinya dengan menyuap nasi. Sementara mata Bunda mendelik tidak terima, “Ya kamu ini gimana! Ayah tahun ini 60 tahun loh. Masa ga di rayakan? Bukan soal pestanya, soal rasa syukur dan kumpul-kumpul dengan sahabat-sahabat Ayah.”

Gue menghela nafas panjang sebelum menjawab, “Jam berapa Bun?” Jujur gue kagum sama passion Bunda untuk mengatur acara2 seperti ini. Gila ya? Apa ga cape dan bosan ketemu orang banyak dan semua percakapan isinya basa-basi?

“Kamu harus di rumah dari siang. Bantu cek ini-cek itu. Bunda sama Ayah sudah tua, takut ada yang kelupaan.” jawab Ayah sambil menguliti ayam panggang di depannya. Dari gerak-gerik Ayah, gue bisa liat Ayah terhibur melihat gue desperate.

“Dan kamu harus pakai baju yang rapi. Temen-temen Ayah dari sekolah, pemerintahan dan lainnya datang. Bunda mau jodohin kamu sama anak temennya Ayah.” Satu lagi passion Bunda yang guw harus kagumi adalah niatnya untuk menjodohkan gue dengan anak temen-temennya. Bukan sekali-dua kali ini terjadi. Ga kehitung lagi saking seringnya!

Tapi ya gitu, guenya ga cocok. Ada yang oke, tapi di ajak ngomong ga nyambung. Ada yang asik tapi ga klik. Ada aja kekurangannya. Alhasil gue jadinya males di jodoh-jodohin. Toh ga ada yang oke dan sreg di hati.

“Sama siapa lagi sih Bun?” jawab gue lemas.

“Temen baik Ayah waktu SMP. Ayah udah ketemu dan anaknya manis banget. Keliatan rajin dan pinter lagi. Dulu sekolah di Jakarta, lalu pulang gara-gara Papa-nya di vonis Alzheimer. Padahal dia di tawarin kerja di Kementrian loh! Yang ini, Ayah yakin kamu suka!” ucap Ayah ga kalah semangat. Tumben-tumbenan nih Ayah ikut-ikutan.

“Ya udah.. Ini yang terakhir ya! Dan, jangan salahin kalo Adit ga suka!”

Pilih Aku Ya? – part 2

Hari ini ulang tahun tante Lusi, itu berarti Mama ga ada di rumah. Asik! Mila bisa kabur lagi! Tanpa babibu, setelah Mama pergi, Mila langsung merayu Koh Handy untuk mengantarnya ke Thousand Dreams. Tangannya udah gatel menulis lanjutan cerpennya. Beribu ide bermunculan bagaimana cara si Protagonis akhirnya sadar kalau mereka saling mencintai. Ah! Cinta memang selalu indah, sampai kamu kenal patah hati….

Mila agak kecewa saat melihat yang melayaninya dari balik counter bukan Mas ganteng. Padahal ia sudah sengaja mencatok rambutnya supaya terlihat lebih manis. Eh, orangnya ga ada!

Dua orang Mas yang ga kalah familiarnya menyambut kamu dengan senyum simpul. Yang satu, si Robert anak magang. Satunya lagi entah siapa tapi sering banget ketemu.

Kulit sawo matang yang didukung dengan tubuh tinggi dan kumis tipis rapi membuat aura maskulinnya muncul keluar bahkan tanpa ia harus berbicara. Bibirnya yang tebal warna merah delima terlihat sempurna dengan bingkai rahangnya yang tegas dan tajam. Otot lengannya terlihat dari balik kemeja hitam yang ia pakai. Yummy banget sih! Mila jadi penasaran gimana rasanya menyentuh otot-otot gemes itu. Perasaan kenal tapi siapa ya?

Kenapa aku suka ke rumah kopi?
Kadang bukan karena aku ingin minum kopi.
Aku cuma butuh rumah, sesuatu yang tidak dimiliki oleh banyak orang belakangan.
Rumah sebagai tempat tinggal semua orang punya. Bagaimana dengan Rumah sebagai tempatmu bernaung dan merasa aman?

– Mila

Ada rasa risih saat tahu kamu hanya sendirian di sebuah cafe/restoran. Keknya aneh aja ga sih?

Itu yang dirasakan Mila saat melihat seluruh kedai kopi kosong, tersisa dia sendiri. Bahkan Robertpun hilang dari balik counter. Tersisa Mas maskulin ini yang sedang melap gelas-gelas di atas mesin kopi. Memastikan kebersihannya bahkan di setiap detail terkecil.

Mila langsung jelinguk sana-sini sebelum ia memutuskan bertanya pada Mas yang ada dibalik mesin kopi itu. “Udah waktunya tutup ya Mas?”

Mas itu tersenyum sambil menjawab, “Belum. Kami masih beres-beres juga kok Mba. Santai aja.”

“Sekarang jam berapa ya Mas?”

“Jam 10 kurang 10 menit.” Mila langsung melongo. Gila, tidak ia sadari sudah 3 jam ia berkutat dengan tulisannya. Pantesan aja jadinya 2 chapters!

“Waduh, Mas. Nanti kalo sudah mau tutup, bilang aja ya Mas.” ujar Mila gugup. Dulu ia pernah kerja di restoran untuk menambah uang saku selagi kuliah, jadi ia tahu persis rasanya kalo lagi jaga shift malem terus ada yang ga pulang-pulang. Ugh minta di santet!

Taukah kamu kalau manusia dikenal bukan dari fisiknya, tapi dari rasa yang ia ciptakan?

Ada perbedaan yang mendalam antara kedua barista ini. Mas gemes kesannya santai, gaul tapi cool. Sepertinya ia seru dengan dunia sendiri dan bodo amat dengan lainnya. Ia dan dunianya, persis tipikal anak indie.

Sementara Mas maskulin ini lebih friendly, berwibawa dan ada satu aura yang membedakannya di antara pegawai lainnya. Yang bisa bikin kamu terpaku padanya dan percaya pada apapun yang ia katakan. Sebagai sesama pemimpin bisnis, Mila tau itulah karisma ‘bos’.

Aura ini sangat berbahaya karena dapat memikat siapapun bahkan tanpa untaian kata. Dibentuk dengan kerja keras, peluh dan air mata; serta beratnya tanggung jawab dan puluhan ups-downs. Semakin kuat aura itu pada seseorang, Mila bisa merasakan berat dan dalamnya pengalaman yang ia untai dalam hidup. Persis seperti Christian Grey yang sukses memikat jutaan hati gadis didunia, dari pelik masa lalunya.

Dalam pertemuan yang tidak sampai 15 detik, aku bisa berkaca pada bola matanya. Ada sebuah tempat kosong disana yang berusaha ia tutupi dengan kabut kebahagiaan. Tapi ingat, itu hanya kabut. Yang siang hilang diterpa cahaya.

Setiap nafas kami berkait, tanpa tahu takdir juga mengaitkan kami pada sebuah jalan setapak bersama. Memberikan kami pilihan, tapi
beranikah kaki kami melangkah maju?

Mila menarik nafas dalam setelah jari-jarinya menari di atas keyboard laptop. Cukup puas dengan kalimat penutup cerita sambung yang ia buat. Tapi disisi lain, entah kenapa ada perasaan kuat yang bikin Mila yakin kalo ia akan bertemu lagi dengan pria ini suatu saat nanti. Saling mengisi bagian kehidupan masing-masing.

Lamunannya buyar mendengar suara mobil bergesekan pada bebatuan di luar kedai kopi ini. Dilihatnya mobil Koh Handy sedang parkir di sana. Tapi itu bukan Koh Handy… ASTAGA MAMA! Mila langsung ngibrit secepat-cepatnya dan memasukan barang sekedarnya ke dalam tas. Setelah di rasa semua sudah oke, Mila langsung lari keluar menghampiri Mama yang terlihat tidak senang.

Jangan terlalu sering kabur dari dunia nyata. Semakin lama kamu melayang pergi, rasanya lebih sakit ketika kamu pulang.

Hari Rabu mendadak Venny ngajak kabur bareng ke rumah Neli. Otomatis Mila langsung buru-buru ke Thousand Dreams untuk takeaway latte untuk mereka bertiga. Kebiasaan yang selalu ia lakukan karena salah satu dari temannya pasti sudah beli makanan entah apa.

Tepat seperti perkiraan Mila, Venny sudah beli 1 bucket ayam KFC beserta nasi untuk mereka bertiga. Mila-pun disuruh Venny tunggu di Thousand Dreams aja. Jadi gampang langsung sekalian jalan bareng-bareng ke rumah Neli.

Sesampainya di Thousand Dreams, mas Gemes menyambutnya dengan muka lempeng khasnya. Muka lempeng yang bikin Mila geregetan.

“Hallo Mas. Ice Latte 3 mau di take away ya.” katanya semanis mungkin sambil tersenyum. Mau tidak mau si mas Gemes juga ikut tersenyum dan lesung pipinya yang malu-malu itu muncul.

“Lagi buru-buru Mba?” tanyanya kalem sambil menerima uang dari Mila.

“Lumayan. Venny lagi di jalan mau jemput ke rumah Neli.” Mas gemes manggut-manggut aja.

“Mas, nama mas siapa sih?” tanya Mila saat menerima uang kembaliannya. Mila bisa melihat ada rona merah di pipi Mas Gemes saat ia bertanya blak-blakan. Tuh kan gemes banget!

“Deddy, Mba.” katanya lalu mendekati mesin kopi untuk membuatkan pesanan kopi Mila. Mila yang degdegan langsung kabur duduk di salah satu kursi dekat tempat lesehan di ujung utara. Duduk manis sambil menenangkan hatinya. Tapi belum juga tenang, Deddy sudah menyamperinya dengan 3 bungkus kopi.

“Berasa ada ketinggalan sesuatu ga Mba?” tanyanya sambil menaruh kopi-kopi itu di atas meja. Mila menoleh ke arahnya kebinggungan, “Apa ya Mas?”.

Mila mencoba mengingat-ingat kembali apa sih yang ia pernah tinggalkan di sini. Aduh kalau semberono, memang Mila jagonya deh!

“Ini bukan punya Mba?” Deddy bertanya sambil menjulurkan sebuah buku bersampul biru tosca dan hitam. Mila langsung terbelalak. Ya ampun dicariin kemana-mana ternyata dia di sini dong!

Ia hanya tersenyum saat melihat Mila yang kesenangan melihat bukunya ketemu. Berkali-kali Mila tersenyum, berkali-kali juga ia jadi ikut bahagia melihat gadis ini. Hubungan asmara dengan langganan adalah hal yang paling ia hindari. Menurutnya itu melanggar kode etik dan haram hukumnya. Hampir 8 tahun ia mampu bertahan dengan pendirian itu, masa sekarang ia kalah cuma gara-gara senyum tulus dari seorang gadis yang jelas-jelas terlihat berbeda dunia dengannya?

Deddy berasa seperti dilempar ke langit ketujuh saat tiba-tiba gadis ini menjulurkan ponselnya, “Mas, nama Instagramnya apa?”.

“Baiklah, jadi Papa lu jodohin lu sama anak Toko Beras Jaya?” tanya Neli mendadak lupa dengan rasa laparnya. Ayam yang tadi super mengiurkan kini dilihatnya tak bernafsu. Sementara Venny tetap makan seolah tidak terjadi apa-apa. Super lempeng, super selow.

“Lu udah kenalan belum si sama orangnya?” tambah Mila yang sama-sama kehilangan nafsu makannya.

Venny tersenyum tipis sambil menjawab, “Udah. Udah kenalan juga bahkan sama emak bapaknya dan seluruh saudara-saudaranya. Dia punya 2 adek cewek yang masih sekolah di Surabaya. Oh iya, gue hari ini cuma bisa sampai jam 8 yaa. Bapak gue udah kek kesetanan hari ini.”

Neli dan Mila melongo mendengar jawaban tenang Venny dan jam malamnya. Sekarang aja sudah jam 7.25 dan makanan mereka saja belum habis. Datang juga baru banget, masa udah balik?

Tapi paling bikin shock bukan jam malam Venny yang emang suka aneh, tapi Venny yang mereka kenal anaknya paling anti perjodohan. Tiap kali denger salah satu dari mereka akan di jodohin pasti reaksinya negatif. Kok sekarang enteng banget di jodohin begini?

“Lu oke aja di jodohin? Kan dulu lu-” Neli mulai ngegas.

“Siapa yang bilang gue oke? Kalo gue oke aja, gue sekarang makan bareng dia bukan sama lu pada lah.” jawab Venny sambil menyeruput kopinya. “Secara finansial sih oke banget lah. Siapa sih yang ga tau toko berasnya om Aming? Orangnya juga berpendidikan, asik di ajak ngomong tapi adek-adeknya kek setan tau ga!”

Mila dan Neli langsung liat-liatan. Saling senyum dan melempar pesan tanpa kata-kata. Lalu dengan bersamaan menjawab, “Ceritaaaaaaa!”

Drama perjodohan Koko Melvin dengan Venny dan kedua adik setannya benar-benar bikin Neli dan Mila ketawa tanpa henti. Ampun deh! Gimana ceritanya lagi PDKT, 2-2 adeknya duduk di sebelah mereka dengerin mereka cerita apa. Kalau mereka rasa ada yang salah, mereka langsung revisi. Gila kali! Lu kira ini lagi wawancara kerja atau latihan listening IELTS?

Belum lagi semua chat Venny dengan Koh Melvin ternyata di pantau oleh kedua adiknya. Adiknya suka banget pinjem hape kokonya dan buka-bukain chatnya dengan Venny. Lalu, adiknya yang pertama suka banget dateng ke Toko Venny cuma buat tanya-tanya apa yang ia rasain tentang kokonya. Ampun deh mereka bahkan belum jarang bareng!

Kalau tidak melihat Koh Melvin yang baik, sabar, pekerja keras dan husband material banget, Venny juga ogah deh! Mau ga mau pil pahit ini di makannya. Kapan lagi dapat cowok sebaik, setajir, seoke, seagama dan cocok dengan Papanya yang super konservatif, aneh dan protektif setengah mati!

“Udah deh gue balik duluan ya udah jam 8 nih.” kata Venny sambil membereskan sampah makanan mereka.

“Ya elah ga seru amat si. Lewat-lewat dikit lah.” jawab Neli dari WC, lagi cuci tangan.

“Tau nih si Rapunzel ngapain sih pulang cepet-cepet. Nanti aja sih jam setengah 9 gimana? Masa jam 8 teng balik? Emang anak SD?” timpal Mila. Venny cuma bisa senyum meringis mendengar jawaban teman-temannya ini. Ya buat mereka memang ini hal yang sangat biasa. Tapi tidak bagi keluarganya. Jam malam itu hukumnya sakral! Jam 10 belum sampai rumah sama aja ngajak mati.

“Gue udah janji sama bokap balik sebelum jam 8. Udah lain kali kita jalan lagi yak.” Venny menjawab sambil berdiri dan berkemas. Mau tidak mau Mila juga ikut siap-siap. Mila yang tidak bisa nyetir mobil maupun motor selalu jadi anak nebeng. Jadi nasipnya sangat ditentukan pada siapa yang menyetir. Begitulah kira-kira.

Tidak lama Venny dan Mila sudah sampai di muka pintu rumah Neli dan beberapa menit kemudian mobil Venny sudah hilang dari pandangan mata Neli. Menyisakan Neli, kamarnya yang berantakan dan bau ayam KFC.

“Sejujurnya gue ga enak sama Neli, Ven.” ujar Mila sesaat mobil mereka melaju di jalan raya. Sambil melirik jam tangan, ia menghela nafas.

“Apalagi gue. Tapi untung deh udah bisa ketemu bentar. Bisa gila gue lama-lama di rumah.”

“Udah sabar aja toh ga bakal berubah juga. Memburuk iya betul, kalo better sih ga bakal tu orang tua.” jawaban Mila membuat Venny tersenyum simpul. Pasti maksudnya bokap gue.

“Gue si udah sampai tahap bodo amat Mil. Eh, lu mau di anter kemana? Mumpung masih siang nih.”

“Anter gue ke Rumah Kopi aja.” ucap Mila yang di sambut tawa renyah Venny, “Kenapa lu malu ya ke Thousand Dreams lagi?”

“Iya lah. Gila ketahuan banget gue ada apa-apanya bisa dateng sehari dua kali.” Mila jadi ikut cekikikan.

“Tapi jam segini mereka rame loh. Lu yakin? Mending ke Thousand Dreams deh.” nada suara Venny berubah menjadi serius. Mila cuma angkat bahu.

“Ya udah gue anter ke sana. Sekali-kali detox lu dari mas Gemes! Haha”

“Eh gue tau namanya tau! Mas Deddy!” Jawaban Mila bikin Venny mendelik, “Dasar si genit! Inget yee boleh deket tapi ga boleh jatuh cinta. Kita ga mungkin sama mereka. Pokoknya engga!”

Taukah kamu kalau nasehat teman tulus yang menyayangi kamu adalah perpanjangan pesan Tuhan?
Berapa kali mereka bilang ‘jangan’, tetap kamu lakukan dan berujung petaka?
Lalu bagaimana sekarang? Saat kamu jatuh cinta tapi teman-temanmu bilang tidak?
Bisakah kamu menutup telinga dengar komentar teman-temanmu?
Bisakah kamu kuat bertahan dan percaya pada kekuatan cinta?
Bisakah kamu mencintai tanpa ‘insecure’ dan memilih percaya pada dia, orang yang baru saja kamu temui? Ketimbang teman-temanmu, yang menopang kamu di saat kamu jatuh?

Bener kata Venny kalau Rumah Kopi super rame di malam hari. Coffee shop ini cukup besar dan terdiri dari 3 lantai. Lantai pertama diperuntukan teman-teman yang suka manual brew dan smoking area. Lantai kedua dan ketiga baru konsep cafe biasa. Tapi ga sampai situ aja. Mereka juga ada mesin roasting dan jualan beans loh! Kalau pagi sampai siang, kita bisa liat langsung proses roastingnya. Asik banget deh pokoknya!

Lantai 2 yang menghadap jendela adalah best spot Mila sejak pertama kali ia menginjakan kakinya di tempat ini 3 tahun yang lalu. Dulunya hanya ini coffee shop yang benar-benar proper sesuai dengan kebutuhan dan ekspektasinya. Kopinya enak, suasananya oke, tempatnya bagus, harganya masih terjangkau. Pastilah balik lagi meski sekarang udah serame tempat konser.

Mau tidak mau Mila harus naik ke lantai 3 membawa laptop, tas dan segelas ice latte-nya. Untungnya lantai 3 masih sepi dan tidak terlalu berisik. Ada sedikit bisik-bisik dari lantai 2 yang tembus sampai sini, tapi tidak terlalu mengganggu. Yang menggangu justru penerangannya yang kurang. Dari 3 lantai, lantai ketiga ini paling gelap sendiri. Heran!

Mila duduk manis di meja paling pojok. Membuka laptopnya dan mulai merajut kata demi kata. Ditengah seru-serunya menulis, Mila sempat-sempatkan untuk menyeruput minumannya. Kafein ternyata ampuh menjaganya agar tetap konsentrasi!

Tapi tau ga efek samping Kafein bisa bikin kamu kebelet buang air. Baru aja beberapa paragraf rampung di olahnya, Mila udah merinding disko menahan pipis. Ini nih yang Mila kesel dari minum kopi sambil nulis. Lagi seru-serunya kalau ke WC ya pasti buyar atuh ๐Ÿ˜ฆ

Apa daya panggilan alam menang. Mila akhirnya nyerah juga nahan pipis. Mau ga mau dia harus turun dari lantai 3 ke lantai 1. Laptopnya di biarkan terbuka menyala, ponsel yang masih tercolok, tas dan dompetnya tetap di tinggal di atas. Eh di ujung-ujung kemampuannya menahan pipis, masih aja dia harus di hadapkan pada antrian panjang toilet wanita yang cuma ada satu-satunya. Tuh kan bener, harusnya dari tadi aja Mil! Tapi untungnya ga sampai beberapa menit, Mila udah keluar dengan rasa lega. Lalu beranjak naik ke atas lagi menemui pangeran kata-kata imajinasinya.

Belum sampai kakinya selesai melangkah di anak tangga terakhir lantai 2, ia menangkap sosok yang ia kenal sedang berjalan ke arah yang berdekatan dengan tangga naik. Ia keliatan lagi seru dengan tab di tangannya, menengadah. Mengunci mata Mila dengan matanya. Bukan, hanya matanya Mila saja. Mila ga sadar kalau sosok ini sudah mengunci hatinya juga.

Rasanya ini namanya apa sih? Rasa penasaran, pengen deket, suka banget tapi di sisi lain tau kalau ini bakal bahaya. Disisi lain takut kalau terlalu deket soalnya tau ga bakal memungkinkan untuk jadi pasangan hidup. Takut dideketin, takut deket-deket. Tapi, pengen deket. Hem. Agak membinggungkan kan yaa?

“H-Hallo Mas, ketemu lagi!” sapa Mila sambil tersenyum gugup. Seutas senyum terlepas dari bibir lawan bicaranya, “Eh iya Mba. Lagi sama siapa?”

“Sendiri Mas. Mas kok disini?”

“Saya memang biasa di sini, Mba. Mba namanya siapa?”

“Saya Mila, Mas. Oh, mau roasting ya?” tanya Mila melihat pemandangan di belakang lelaki itu penuh dengan green beans.

“Kita roasting tiap pagi Mba. Sekarang sih mau ngecek supply-nya aja. Eh, duduk-duduk.” Lelaki ini mempersilahkan Mila duduk di meja terdekat yang kebetulan kosong. Dari percakapan ini, Mila tau kalau ternyata dialah Mas Adit si empunya ini semua! Humble banget sampai-sampai Mila hampir ga lupa kalo beans dari Rumah Kopi adalah supplier biji kopi di hampir semua Hotel dan Coffee Shop di Kalimantan Selatan dan Tengah.

Mas Adit ternyata seumuran dengannya, kuliah di Solo dan memang passionate banget sama dunia F&B khususnya kopi. Selepas dari bangku kuliah, Mas Adit langsung buka Rumah Kopi, kedai kopi pertamanya. Tiga tahun kemudian, lahirlah Thousand Dreams, sebagai kedai kopi kedua yang fokus pada coffee beans luar negeri.

Dari gaya bicaranya, Mila tau Mas Adit sangat mencintai pekerjaannya. Cara dia ngomong, cara dia bersikap, cara dia berpikir, gerak-gerik bicaranya. Mila suka! Apalagi sama idealisnya Mas Adit. Emang sih bikin geregetan karena tidak sedikit yang bertabrakan dengan gaya pikir dan kebiasaan sosial yang ada. Tapi itu tidak sama sekali menghilangkan daya pikat bicara sama Mas Adit. Justru itu daya pikatnya! Pikiran idealisnya itu bikin penasaran.

Bener kata orang, cinta itu bermula dari mata, lalu turun ke hati lewat kata-kata. Karena yang bisa menumbuhkan rasa adalah percakapan.

Boleh ga sih Mas, aku berharap bisa bicara sama kamu lagi lain waktu? Ngomong sama mas, asik banget ih!

Pilih Aku Ya? – part 1

Mama arisan selalu jadi waktu favorit Mila, karena akhirnya ia bisa kabur mencari inspirasi untuk tulisan baru di blognya. Untungnya Koh Handy selalu mau aja dimintain tolong meantarnya kemana-mana. Hanya butuh waktu lima menit sampai Mila melihat lampu ‘goa inspirasi’nya.

“Hallo, Mas! Ice latte satu, ga pakai straw.” ucapnya saat melihat sosok familiar dibalik mesin kopi. Ia yang dari tadi sibuk membersihkan bagian-bagian kotor mesinpun berbalik melihat arah sumber suara, melihat wajah langganannya yang sekarang berdiri di depan counter. Iapun tersenyum simpul.

“Ada lagi?” tanyanya sambil meraih uang 50rb dari tangan Mila.

“Itu aja, Mas. Nanti kembaliannya bareng sama minumnya aja ya.”

Tidak butuh waktu lama untuk Mila memutuskan duduk dimana. Kursi di kedai kopi ini jumlahnya tidak banyak, demikian dengan mejanya. Tapi setiap meja dan kursi sangat terkonsep sampai-sampai bisa di kategorikan dari kebutuhannya masing-masing. Yang bawa laptop dan masih mau bekerja, duduk di sayap kiri yang banyak colokan listriknya. Mau rame-rame, ada lesehan di ujung utara. Dua set sofa disediakan untuk yang mau santai. All perfect!

Entah Mila terlalu berkonsentrasi dengan yang di hadapannya atau bagaimana, sampai-sampai ia tidak sadar bahwa es di lattenya sudah mencair semua. Pas banget disaat otaknya lagi ngebul, kehabisan kata-kata untuk menyambung semua ide jadi satu tulisan romantika yang indah. Iya, kali ini Mila nulis cerpen cinta. Tumben-tumbenan.

“Tumben sendiri, Mba?” tanya Mas tadi dari meja seberang Mila. Sambil membersihkan piring dan beberapa gelas di sana, Mila bisa melihat seutas senyum dari si Mas itu.

“Iya, temen aku sibuk semua nih. Lagian ada yang mau di kerjain, Mas.” jawab Mila mengalihkan pandangan dari laptop ke Masnya yang kini sedang melap meja. Rupanya ada sedikit kopi yang tumpah hingga ke kursi dan lantai.

Dari tempat Mila duduk, untuk pertama kalinya Mila bisa melihat jelas si Mas familiar ini. Biasanya mereka hanya bertemu kalau di counter, itupun maksimal 30 detik.

Kadang kita susah menghargai yang ada di depan kita, justru lebih suka mengagumi yang jauh.

Dari balik jaket jeansnya, Mila bisa melihat bahu yang cukup bidang, badannya ternyata tinggi juga tampak kesulitan saat melap kursi kayu, lalu turun ke kakinya yang jenjang tampak dari celana Chino cokelatnya yang menggantung. Sepatu Vans hitam, serta lesung pipi yang suka malu-malu muncul saat ia tanpa sadar menggerakkan mulutnya. Tanpa sadar Mila tersenyum melihat definisi a-very-fine-man di hadapannya. Kemana aja sih Mil, baru nyadar sekarang!

Dua jam berlalu begitu cepat sampai Mila tidak sadar kalau waktunya tempat ini tutup. Untungnya Koh Handy belum tidur dan mau saja menjemputnya. Sambil menunggu kakak kesayangan dan satu-satunya itu, Mila memilih duduk di dekat pintu, sebelah counter. Koh Handy suka marah-marah sendiri kalau Mila lambat keluar soalnya ๐Ÿ˜ฆ

“Pulang Mba? Sorry, nama Mba siapa?” tanya Mas itu sambil menghitung uang dari dalam cashdraw. Matanya sesekali melirik Mila yang duduk santai di kursi dekat meja kasir, di dekat pintu dengan tas yang terselempang di bahunya.

“Meilia, panggil Mila aja. Hem… Kasian kalau aku ga pulang, Mas ga tutup-tutup loh.” jawab Mila ceplas-ceplos disusul dengan senyuman di bibir Mas ganteng itu. Mau tidak mau, Mila juga jadi ikutan tersenyum kan!

“Nunggu di jemput, Mba?” tanyanya sambil menulis sesuatu di secarik kertas. Lalu mengalihkan penuh perhatiannya pada Mila. Mila hanya mengganguk dan kemudian tersenyum, lalu mengigit bibir bawahnya saat merasakan pipinya panas karena tatapan intens Masnya. Duh, ileh! Dia ganteng banget ternyataaa! Liat deh mukanya laki banget gitu. Tipe gue bangeeetttt!!

Suara klakson mobil memecahkan gelayar-gelayar diantara keduanya. Butuh beberapa detik sampai Mila ngeh bahwa klakson mobil itu dari Koh Handy yang sudah manyun menunggunya.

“Mas, aku duluan ya.”

Oh iya, Masnya namanya siapa ya?, batin Mila sambil melangkah masuk mobil. Dari kaca mobil, Mila melihat sekali lagi Mas kedai kopi kesukaannya itu. Menangkap sebuah perasaan yang lama sudah ia tidak rasakan. Entah itu kasmaran, kagum, suka atau apa. Maklum, sudah 4 tahun Mila tidak berhubungan dengan cinta-cintaan. Ia bahkan sudah lupa rasanya bagaimana. Begonya, dia ga nanya nama Mas itu! Ampun deh!

Kopi mengajarkan bahwa bahagia itu sederhana.
Tidak usah di buat ribet dan neka-neko.
Segelas kopi dan waktu untuk menenangkan diri sejenak sudah cukup.
Karena belajar bersyukur dan memaknai hidup bisa dari mana saja.
Termasuk dari segelas minuman yang kamu seruput.

Thousand Dreams, memang jadi tempat nongkrong favorit Mila dan teman-temannya. Awalnya Venny yang pertama kali mengajak ngopi di tempat ini. Coba-coba aja sih kan tempat baru. Mungkin sekitar awal tahun lalu kali ya? Masih sepi banget tempatnya. Dalam ketenangan itu, mereka mendapatkan kenyamanan yang tidak mereka dapatkan di tempat lain. Belum lagi kopi di sini enak banget!

Percaya atau tidak, apa yang dibuat dengan cinta pasti akan dirasakan oleh penikmatnya.

Jadi bisa dibilang tiga orang sekawan ini salah satu langganan setia dari semenjak kedai kopi ini baru buka. Mila, Venny, Neli, si trio kutu buku minimal seminggu sekali mampir. Gimana Mas dan Mba disini ga hafal dengan muka mereka? ๐Ÿ˜€

Seperti hari Minggu ini, mereka bertiga kembali ngumpul di pojok lesehan. Neli dan Venny asik dengan watercolour mereka, sementara Mila lagi asik baca buku. Kebetulan Neli baru aja beli buku poems-nya Atticus!

“Gue hari ini cuma bisa sampai jam 4 ya. Mau ke rumah si Ocel nih.” ucap Neli tanpa mengalihkan pandangannya dari keseruan gambar-gambarnya, “Mila ke Gereja ga?”

“Engga. Kemarin hari Sabtu udah. Keknya gue di sini dulu deh. Males denger kotbah Emak gue. Habis deh ga kelar-kelar buku gue.” Mila menjawab dari balik buku bacaannya. Venny hanya tersenyum tipis merespon jawaban Mila karena tahu buku yang dimaksud adalah buku miliknya. Jonas Jonasson, The Accidental Further Adventures of The Hundred-Year-Old Man.

“Gue bentar lagi balik nih.” Venny berucap setelah mereka selesai menggambar. Hasil gambar mereka berdua jauh berbeda 180 derajat. Venny yang feminim, menggambar bunga-bunga dengan warna pastel. Cantik dan anggun, persis seperti pribadinya. Sementara Neli menggambar serigala dengan warna dominan hitam dan abu-abu, tipikal anak emo memang.

“Lu balik, gue balik nih.” jawab Neli sambil mulai merapikan alat gambarnya. Mila menutup buku bacaannya dan membantu mereka beres-beres.

“Beneran lu mau disini dulu, Bu?” Venny bertanya dengan nada serius sebelum mereka berdua keluar pintu. Mila hanya mengganguk, “Iya buruan pergi lu pada elah. Gue mau baca buku!”

Mila berdiri dari balik pintu sampai mobil keduanya hilang dari pemandangannya lalu ketika ia berbalik, ia baru ngeh kalau ada Mas yang kemarin memperhatikannya dari balik counter. Melihat lelaki itu, Mila tersenyum dan menyapa, “Hai Mas. Kok baru keliatan?”

“Iya Mba. Saya belakangan fokus sama beans di kantor pusat.” jawabnya dengan logat yang terdengar asing di telinga Mila. Tunggu deh, asing tapi kok kenal ya?

“Mas bukan orang Banjar ya?” Mila menangkap wajah terkejut dari lelaki berkulit langsat ini.

“Iya, orangtua saya orang Sunda. Tapi saya lahir, besar di Banjar.”

“Pantes…”

“Kok Mba tau?”

“Mantan aku orang Bandung soalnya.” jawab Mila spontan dan langsung mengigit bawah bibirnya gugup, “T-Tapi udah putus.” Bodoh banget Mil! Bodohh!

Emang ini Mas manusia es batu apa gimana. Ia tetap tenang mendengarkan dikala Mila panik karena jawabannya yang terlalu jujur. Beberapa pertanyaan basa-basi kemudian mencairkan suasana. Dari percakapan mereka, Mila baru tahu bahwa Masnya ini lebih tua setahun darinya. Dia bekerja sebagai penanggung jawab di Thousand Dreams, yang sebenarnya cabang dari Rumah Kopi milik seseorang bernama Adit. Ga tau deh dia siapa, Mila ga kenal. Percakapan kedua terpotong ketika ada customer baru yang masuk dan berakhir saat Papa mengirimkan pesan.

“Ayo pulang. Mama sudah nyariin.”

Dengan berat hati, Mila menutup buku yang padahal sisa beberapa lembar terakhir. Tau gitu tadi ikut anak-anak aja pulang sekalian! Memesan taksi online dan mengemas barangnya. Ia tidak sadar pergerakannya di awasi seseorang dari balik mesin kopi sampai ia selesai beres-beres. Mila membalas dengan tersenyum kepada tatapan seseorang dibalik mesin kopi itu dan berjalan ke arah Mas Gemes yang sedang berdiri di dekat pintu keluar. Menepuk lengan kirinya dan pamit pulang. Eh tunggu deh! Tadi lama ngobrol kok lupa lagi sih nanya nama masnya sih Mil? ๐Ÿ˜ฆ

Kadang yang kita butuhkan dalam hidup bukan materi.
Uang memang penting. Tapi, siapa yang tidak mau merasa bahagia?
Mimpiku cuma satu, bisa tidur dan bangun di sebelah orang yang ku sayang setiap hari tanpa menggerutu. Itu saja kenapa sulit sekali?

— Mila

Suara air di bak sink menggema di jam-jam malam seperti ini. Maklum kalau sudah malam gini, suara cicak aja terdengar nyaring. Tina, barista perempuan kami satu-satunya dari tadi hilang entah kemana. Bilangnya sih beli rokok, tapi sudah setengah jam belum pulang juga.

Bukannya gimana ya, aku itu jadi ga enak dengan Deddy. Dia lagi ga enak badan dan harusnya libur, terpaksa masuk gara-gara si ayahnya Robert kecelakaan dan ia harus ke Rumah Sakit. Eh sekarang malah kerja sendiri untuk cuci-cuci dan membereskan coffee shop ini, bahkan disaat aku tidak minta.

“Sorry ya boy. Jadi lu yang beres-beres deh.”

“Bos hitung duit aja. Gue belum hitung tadi.” jawabnya sambil nyengir-nyengir sendiri di sink.

“Udah boy. Udah gue catetin juga di buku. Ntar lu langsung balik aja, ga usah ke RK lagi.”

“Iya bang! Lu balik aja. Kopi pada bau dahak semua gara-gara lu batuk-batuk mulu.” ujar Tina yang tiba-tiba muncul dari pintu belakang sambil senyam-senyum. Ditangannya ada sebungkus gorengan dan 3 kotak rokok Malboro Merah. Ampun deh ni cewek! Casing-nya si bener perempuan, dalemannya laki bener!

Setelah menaruh gorengan di meja sebelah sink, Tina mengambil kain lap dan spray pembersih meja. Iapun mulai berkeliling membersihkan meja dan kursi sebelum tempat ini benar-benar tutup.

“Eh kak! Ini ada buku ketinggalan.” katanya lagi dengan suara nyaring yang membuat aku dan Deddy terkejut bukan main. Nyaris aja gelas di tangan Deddy selip saking kagetnya. Tuh kan bener yang gue bilang! Ni cewek ga ada cewek-ceweknya elah!

Deddy menoleh ke arah suara lalu menyipitkan matanya, “Punya siapa?”

“Keknya cewek yang duduk di sini tadi bukan sih? Gue simpenin aja ya. Diakan langganan juga. Paling 1-2 hari juga dateng lagi.” jawabnya sambil membawa buku masuk ke ruang penyimpanan.

“Siapa sih?” tanyaku sambil berusaha mengingat-ingat.

“Tadi cewek yang pake terusan putih, Mas. Mas Adit ga pernah ketemu ya? Keknya dia juga sering ke RK deh. Waktu aku training di RK sering liat dia kok.” Tina bersuara dari dalam ruang penyimpanan.

Ah! Cewek Tionghoa tadi? Yang seru sendiri di depan laptopnya? Senyam-senyum trus bisa tuh keliatan sedih sendiri. Seru banget ngeliatin perubahan ekspresinya dari balik mesin kopi. Mana cantik lagi!

“RK? RK kita? Rumah Kopi? Coffee shop kita?” tanyaku sambil mengulum senyum. Berharap mereka tidak melihat perubahan ekspresiku menjadi mendadak riang.

“Iya mas. Masa mas ga pernah liat? Bang Deddy pernah liat juga kok. Sering malah.”

Deddy manggut-manggut sambil melap tangannya seusai selesai cuci-cuci, “Tapi semenjak ada Thousand Dreams, dia jadi ke sini. Katanya rumahnya di Kuripan.”

Oh! Kenapa dia sukanya ke sini? Tiba-tiba saja otak gue langsung berpikir keras gimana caranya sering ke sini. Seakan menampar gue karena sebenarnya gue paling males ke sini. Itu sebabnya semua hal disini gue percayakan semua ke Deddy dan sekarang gue malah mikir gimana caranya gue bisa stand by di sini, di coffee shop satelit yang omsetnya cuma seperempat coffee shop pusat gue di Rumah Kopi. Gila! Emang dasar otak cowok, ga bisa lepas dari cewek cantik!

Prolog : Cerita di Rumah Kopi

Sudah lama sejak cerpen terakhir saya di publish di media. Seingat saya terakhir tahun 2015 di sebuah penerbit indie dalam buku kumpulan cerpen-cerpen. Kembali ke Banjar, saya hampir tidak pernah membuat cerpen lagi.

Bukan karena saya tidak lagi suka menulis lagi atau kehabisan ide. Tapi menulis cerpen membutuhkan banyak waktu sendiri. Menulis tidak bisa dalam keadaan berisik dan banyak orang. Saya harus menyendiri di ruangan sunyi sepi, supaya bisa merangkai kata demi kata.

Di Banjar, saya tidak mendapatkan itu. Kamar sendiri aja tidak punya, boro-boro personal space. Alhasil saya sering kabur ke Coffee Shop yang jaraknya ga sampai 5 menit naik sepeda. Di sini saya merdeka. Ide-ide mulai bermunculan, kata demi kata di rangkai dan saya bahagia.

Awal tahun, saya sudah berjanji pada diri saya sendiri di tulisan Between Luck & Love; kalau saya akan aktif kembali. Butuh beberapa bulan lagi untuk saya memantapkan diri.

Akhirnya saya memutuskan untuk aktif kembali, menulis cerita cinta di wadah yang kurang kondusif. Kali ini saya menulis untuk diri saya sendiri. Saya pribadi sudah cape menulis untuk publisher. Cerita yang saya buat sebagai pelarian dari rasa penat seusai bekerja. Juga, membantu saya memaknai & menghargai hidup, sastra dan orang-orang di sekeliling saya.

Mungkin kamu akan mendapati karakter ini mirip dengan si itu, si ini dan sebagainya. Atau karakternya mirip dengan kamu, yang sedang membaca tulisan ini. Iya betul. Saya memang mengambil karakter dari teman-teman, kerabat dan orang-orang yang saya temui. Terima kasih sudah menginspirasi saya.

Belum lagi, di Coffee Shop juga saya belajar ratusan ragam manusia hanya dengan mengamati. Mulai dari wanita karir yang super sibuk tapi ternyata kesepian, bapak-bapak katanya rohani tapi malah pangku-pangkuan dengan selingkuhannya, anak-anak remaja yang sedang puber, dan masih banyak lagi.

Dari situlah cerita ini dimulai. Cerita bersambung tentang apa saja yang terjadi di Neighborhood Coffee Shop langganan saya. Termasuk cerita tentang apa yang saya alami, amati dan rasakan. Semua di balut dengan cinta dan segelas latte yang di buat dengan senyuman. Semoga kamu suka ๐Ÿ™‚

Cerita pertama: “Pilih aku ya?”

Kenapa Windri Jomblo?

Banyak yang suka nanya ke saya, kenapa sih Windri masih sendiri aja? Ga ada yang cocok, apa masih belum move on? Saya cuma bisa tersenyum karena menjawab pertanyaan ini sangat tricky. Yang pasti, saya sudah move on. Terima kasih.

Lalu, kenapa belum punya pacar? Kali ini saya menghela nafas. Ni saya kasih tau!

Saya percaya bahwa ada 3 jenis hubungan antara laki-laki dan perempuan. Murni teman, Admired Man & The Last Puzzle.

Murni Teman. Semurni itu sampai-sampai kamu rasa temen seganteng apapun ga ada tuh ganteng-gantengnya! Ngeselin malah!

Ok, kita bahas yang pertama dulu. Pernah ga sih kamu punya temen cowok yang asik banget di ajak becanda, ngobrol dan main tapi kalo disuruh ngebayangin sayang-sayangan sama dia, kamu merinding disko! Boro-boro ngebayangin bibirnya melumat bibir kamu, ngeliat bibirnya aja kamu sudah geli. Iyuhhh!

Bukan berarti kamu ga sayang sama dia! Kamu sayang, kalo ga sayang gimana kamu bisa curhat-curhatan sama dia? Kenapa kamu masih mau aja ngebantuin dia? Mau aja tetap temenan sama dia padahal kamu udah tau aja semua akal busuk, kebodohan, clumsiness dan keras kepalanya? Tapi ya gitu, kamu sayang tapi perasaan kamu murni hanya sebagai teman. Ga lebih.

Saya punya beberapa temen model begini, banyak malah. Hati saya sudah mengumpat sejadi-jadinya sama diri saya sendiri. Kenapa sih Win ga bisa jatuh cinta dengan mereka yang nyata-nyata udah tau kamu luar-dalem, udah cocok, ga neko-neko? But that’s the mysterious side of love, isn’t it? Giliran kita berharap, ga di kasih. Ga di duga2, eh suka. Kampret!

Admired Man, tepatnya tipikal cowok yang cuma bisa kamu kagumi.

Tipikal cowok kek gini sering banget saya temui. Brengsek memang! Cowok yang bikin kamu pangling, tapi kamu tau kamu ga bisa dapetinnya. Alasannya karena terlalu jenjang perbedaanya. Bisa dari segala sisi mulai dari jarak, social class, ras, agama atau memang karena tidak memungkinkan aja. Misalnya kamu suka sama Taehyung BTS? Pokoknya selalu ada aja alasannya!

Kamu cuma bisa memandangi mereka dari kejauhan sambil tersenyum. Ngeliat Instagramnya update aja sudah seneng. Percakapan-percakapan kecil yang bisa kamu utarakan, tapi kamu tetap jaga jarak supaya hatimu tidak menggila. Hubungan antara kamu dan dia itu bahaya, karena kamu tahu ujung-ujungnya tidak kekal. Kamu memilih bertahan dan memendam.

Dari kejauhan, kamu cuma bisa berdoa yang terbaik untuk dia. Supaya dia selalu bahagia dan tersenyum seperti saat kamu melihatnya dari balik ponselmu. Ah! Dia baru update Instagram Story! Langsung deh buyar konsentrasi dan senyam senyum sendiri. Ampun deh!

The last puzzle, flip to your flop!

Saya percaya ga ada cowok yang sempurna! Mustahil banget! Tapi selalu ada cowok yang pas, karena Tuhan menciptakan manusia itu seperti puzzle. One day you will find your other piece to complete yours.

Nah, si puzzle ini akan melengkapi ‘the whole’ you. Jadi, karakternya agak cukup berkembalikan jadi sebenarnya dia bakal nyebelin! Kamu ke kiri, dia ke kanan. Kamu suka ini, dia suka itu. Ampun deh.

Masalahnya kapan? Kembali lagi ke waktu yang ditetapkan oleh sang Pencipta. All you need is wait & keep in faith! Karena menemukan the last puzzle ga segampang dan secepat itu. Beauty and The Beast, Belle aja perlu ketemu si Gaston yang super narsis sebelum ketemu si pangeran buas. Apalagi kita ini warga jelata?

Yang pernah main puzzle pasti tau kalau kadang kita harus coba dengan yang ini, coba yang itu, ngutak-ngatik sampai akhirnya ketemu yang tepat. Jodoh juga gitu. Jadi kalau masih pacaran, hati-hati karena mungkin aja yang kamu pacarin itu puzzle-nya orang. Jangan terlalu benci sama si ini-si itu juga. Siapa tahu dia jodoh kamu? Hayoloh!

Sekali lagi, all you need is wait and keep in faith. Percaya aja dia akan datang, sambil tetap membuka hati untuk mencoba. Enjoy the process, girls!

Emang seaneh apa sih Win cowok yang kamu suka? Jawabannya, aneh banget. Kalau ga, kenapa saya tetap sendiri sekarang ini? :’)

Saya pribadi kenal jelas tipikal laki-laki yang saya lihat “menarik”. Kriteria dan jenis-jenisnya sudah kebaรงa karena ujung-ujungnya saya jadi sama cowok-cowok model begitu. Saya suka laki-laki yang matang. Dia tau dirinya, tau apa yang dia suka, yang dia gemari, yang dia kejar dalam hidup dan punya planning untuk masa depannya.

Saya naksir sama cowok idealis! Pengen rasanya pinjem suit-nya Ant Man dan masuk ke otaknya. Penasaran seasik apa sih isi dalamnya.

Banyak orang bilang laki-laki idealis itu engga banget. No, that’s not true! Saya suka banget justru! Saya suka lelaki yang punya pattern hidupnya sendiri, his own style dan anti mainstream. Yang ga gampang keseret trend, banci tampil, pengen eksis dan haus spotlight/recognation. Ya ampun berasa deket sama cowok masih puber yang baru aja kenal dunia luar. Geli tau ga!

Kalau masalah lainnya, seperti ras dan suku sih saya tidak terlalu peduli. Agama selama masih Salib, saya oke karena Papa saya pendeta. Tapi kalau masalah tingkat edukasi duh ga bisa di tolerir. Saya masih percaya edukasilah yang bisa mendidik seseorang open-minded dan bisa melihat dari berbagai sudut pandang lain.

Saya ga tahan sama orang yang otaknya ga jalan dan ga bisa sama orang yang ga suka belajar. Mati aja gih!

Walaupun saya tahu bahwa sarjana tidak menjamin orang bisa “berpikir”. Karena theory of life bisa di dapatkan siapapun dan dimanapun. Banyak yang cuma lulusan SMA bisa lebih cerdas dan akalnya jalan. Tapi beda loh orang yang pernah kuliah dan engga. Cerita-ceritanya, suka-dukanya, pertemanannya dan pengalamannya bisa di jadikan acuan hidup dan salah satu topik pembicaraan. Asik kan?

Bertanggung jawab adalah harga mati! Ketika seseorang itu punya tanggung jawab dan ia orangnya bertanggung jawab, pasti dia bakal melakukan apapun untuk memenuhi tanggung jawab itu. Otomatis akan rajin kerja, otomatis akan kerja keras. Semuanya itu dilakukan untuk tanggung jawab istri dan keluarga kecil yang ia harus hidupi sebagai suami dan calon ayah.

Udah itu aja. Peduli setan dengan casing luarnya gimana. Selama bersih dan rapi, saya no problem. Faktor ekonomi juga ga terlalu saya pedulikan, apalagi social class karena dengan standart seperti itu pasti ga bakal ketemu yang kelas bawah.

Sudah jangan buru-buru.
Ga cape mencintai dia yang sia-sia?
Ga jera 2 hubungan kandas karena masalah yang itu-itu aja?
Mending membenahi diri sebentar, tenang sebentar.
Dia akan datang, itu yang pasti. Cuma waktunya yang tidak pasti.

Mama Papa sudah sering bertanya ke saya, Kapan mau punya pacar lagi? Hahaha! Ga berasa sudah 5 tahun berlalu sejak hubungan terakhir saya. Saya putus tanggal 24 Desember 2014. Iya, tepat saat Christmas Eve. Gila emang tuh si mantan! Kebayangkan sakit hatinya gimana? Perlu waktu lama untuk saya sampai benar-benar sembuh total. Puji Tuhan sekarang sudah.

Saya termasuk orang yang percaya bahwa menyembuhkan hati itu perlu waktu. Yang bisa menyembuhkannya adalah diri kita sendiri. Toh hati kan hati kita, kenapa harus orang baru yang nyembuhin? Bikin rusuh iyee!

Saya memutuskan untuk sendiri, sampai saya sembuh total. Saya ga mau cowok saya nerima hati penuh luka. If I love him, I will give him the best.. ehh keterusan sampai sekarang. Enak sih! Haha

Alhasil saya jadi banyak banget hobi-hobi baru. Mulai dari balik sepedaan, makin rajin explore resep masakan & baking baru, ngeteh lagi, baca buku-buku yang lebih idealis dan skincare! Tapi rupanya hobi-hobi baru ini membuat pergaulan saya makin luas. Menjajahi dunia yang belum saya tahu sebelumnya. Seru bangett!

Dari ketemu orang-orang baru, saya jadi lebih mudah membuka hati. Memang saya belum ketemu dengan pengisi hati yang baru, tapi saya tidak menutup kemungkinan untuk kembali berpacaran belakangan ini. Tapi kalau belum ketemu yang cocok, kenapa harus nyari banget sih? Jangan di obral gitu dong! Chill~

So, siapa bilang kalau susah cari mahluk langka di kota Banjarmasin? Kamu aja yang kurang bergaul!

Apa sih yang bikin laki-laki jatuh cinta?

Kejadian ini menyadarkan saya bahwa kecantikan bukanlah penentu segalanya. Dia yang cantik bukan berarti dia bisa punya pacar yang oke banget; atau pernah ga sih liat cowok ganteng luar biasa tapi punya cewek yang fisiknya ga sepadan.

Sepertinya Tuhan sudah terlalu lelah mengajari saya lewat buku-buku yang saya baca. Kali ini saya benar-benar di tampar di depan mata.

Apa sih yang bikin laki-laki jatuh cinta?

Pertanyaan itu sejak lama sudah nempel di kepala saya, sampai saya akhirnya kebagian ngerasain jatuh cinta. Saya baru ketemu jawabannya “Ah! Dia ganteng, saya naksir!”. Jatuh cinta dimulai dari rasa tertarik muncul karena penampilan fisik.

Ini diperkuat ketika saya melihat reaksi yang berbeda ketika saya ‘berdandan’ atau tidak. Ketika saya pakai pakaian yang oke, atau pakai baju ala kadarnya. Ketika saya lagi cetar, atau saya tampil biasa saja. Beda banget!

Jujur deh! Siapa sih yang ga suka punya pasangan yang tampangnya oke banget? Masa kamu milih pacaran sama Mpok Ati kalau bisa sama Dian Sastro?

Tapi kok makin ke sini saya mulai goyah yaa? Karena saya belakangan sering jadi korban laki-laki yang keliatannya uwaw, tapi pas mulai deket jadi iyuh! Dari tampang gentleman, waktu di ajak ngobrol ya ampun otaknya kopong!

Bahkan pernah loh saya di deketin sama satu cowok yang waktu jalan pertama MINTA DI BAYARIN padahal dia yang ngajak jalan. Huft! Langsung coret dari list!

Dari buku-buku yang saya baca, saya ngeh kalau kebanyakan protagonist ga langsung jatuh cinta tuh! Butuh waktu, proses dan usaha yang dilakukan sampai akhirnya 2-2nya tau kalau mereka mencintai. Jadi, kenapa kamu harus buru-buru?

Sampai akhirnya saya melihat satu perempuan yang keliatan banget lagi naksir sama satu lelaki. Busyet deh! Keliatan banget ngegodainnya sampai-sampai ekspresi cowoknya asem! Karena bukannya gimana yaa, tapi ceweknya agresif banget dan frontal pula. Satu kata yang bisa saya simpulkan untuk perempuan ini adalah NORAK.

Sedangkan cowoknya lulusan luar yang intelek, latar belakang keluarganya sangat terpandang, usahanya maju banget, finansialnya luar biasa menjanjikan dan kalem. Mendadak langsung ketemu cewek yang pecicilan, ngomong ga ada isinya dan genit. Kebayang ga sih gimana?

Gila ya, gimana cowoknya mau kalau ceweknya gitu?

Saya langsung terdiam saat hati saya mendadak nyeletuk. Kok saya bisa sih Win, kamu mikir kek gitu?

Sesampai di rumah, saya langsung intropeksi diri. Sambil kembali mengingat-ingat apa sih sebenarnya yang terjadi tadi. Saya ingat ada satu temannya dengan ceplas-ceplosnya berkata, “Jangan kegenitan! Murahan tau ga”. Ah!

Ternyata kunci jawaban yang saya cari-cari ada didalam diri saya sendiri. KARAKTER, hei siapa yang ga suka sama orang yang sikap, sifat dan manner-nya baik?

Memang kita tertarik pada penampilan fisik, tapi kata-katanya yang membuat kita kasmaran. Dari percakapan yang intens kita bisa membaca karakternya. Gimana mau sayang kalo pas di ajak ngomong ga nyambung?

Saya yakin laki-laki itu mahluk yang diciptakan Tuhan dengan orientasi pada pikiran. Mereka suka dengan orang yang bisa di ajak tukar pikiran karena itu satu-satunya cara mengenal kamu! Kita itu mahluk sosial, remember.

Tapi disisi lain mereka memiliki “kebutuhan”. Seperti perempuan yang butuh dilindungi dan rasa aman, laki-laki butuh dihargai. Respect adalah kebutuhan utama dari jenis kelamin ini, sedangkan untuk perempuan, apa lagi kalo bukan cinta? ๐Ÿ™‚

Nah masalahnya apa yang mau di-respect kalau ngomong aja ga nyambung? Percakapan adalah pintu masuk ke gerbang hubungan antara 2 insan. Sedangkan percakapan sendiri punya beberapa tahapan. Mulai dari tahap awal basa-basi, masuk ke pengenalan diri sendiri sampai teman, keluarga dan masa lalu.

Kalau sudah nyambung ngomong apa aja jadi seru, makin lama makin intens! Mereka bisa aja lupa dengan penampilan fisik kamu yang mungkin bikin kamu minder. Please girls! Laki-laki itu ga sebrengsek dan sevisual itu juga kok :))

Laki-laki itu mahluk yang casing-nya kuat, tapi dalemnya lembut. Mereka butuh waktu dan caranya sendiri untuk mengenal kamu. So, be patient & be yourself always!

Kalau sudah dekat, biasa karakter aslinya keluar. Bukan mereka berubah tapi dia mulai jadi dirinya sendiri, karena dia nyaman di dekat kamu.

Sekarang kuncinya ada di diri kamu sendiri.

Laki-laki mungkin saja akan menilai pertama dari tampilan luar, karena kamupun begitu. Tapi, fisik bukan yang utama. Karakter kamu yang utama, so dont be too worry kalo kamu jerawatan, gendut dll.

Perluas pengetahuanmu supaya kamu bisa jadi teman ngobrol yang seru, banyak bergaul supaya kamu bisa punya sudut pandang lebih luas dan terakhir banyak belajar, biar kamu tidak norak. Be confident and expand yourself!

… and you will see the world (and men) in very different way! Good luck!

Karena Kopi Setia

Tulisan ini terinsiprasi dari percakapan Tom Holland dengan Robert Dawney Jr di film Spiderman: Home Coming. Tom Holland memilih menjadi Neighborhood Hero dibanding join Avengers. Dari saat itu saya mulai disadarkan pentingnya peran ‘neighborhood friendly’ lainnya. Misalnya, Neighborhood Coffee Shop.

Last scene of Spiderman: Homecoming (2017)

Kemudian saya ngeh kalau ternyata Neighborhood Coffee Shop telah menemani setiap fase kehidupan saya. Meskipun saya anak teh, mau ga mau saya harus mengakui kopi-lah yang menemani saya disetiap keputusan yang saya ambil.

Itu sebabnya saya tulis ini sebagai wujud apresiasi saya kepada friendly neighborhood coffee shop yang selalu memberikan inspirasi dan kesan yang mendalam. Terima kasih Kedai kopi. Terima kasih banyak kopi.

Untuk Coffee Shop yang entah namanya.

Pengenalan saya sama kopi dimulai gara-gara mantan suka banget ngopi. Alhasil pacaran selalu di Coffee Shop. Dulu, ada Coffee Shop kecil di bawah apertemen saya yang jadi saksi masa-masa pacaran saya. Dari awalnya minum cokelat sampai ketagihan minum Cappucino, minuman kopi pertama saya.

Ah! Saya inget betul waktu saya masih pacaran. Salah satu barista-nya tiba-tiba nanya pas saya lagi ngopi sendiri, “Mba, kemarin kok ga sama pacarnya? Saya liat pacar mba sama temennya seru amat keknya ngobrol”. Makasih Mas! Gara-gara info Mas, saya tau kalau mantan saya brengsek sudah main mata sama cewek lain tapi putus dengan alasan ‘ngerjain skripsi’.

Hubungan saya bubar, bubar juga Coffee Shopnya. Tapi kenangan di Coffee Shop itu tetap nempel sampai sekarang. Hihi!

Waking up the senses in Common Ground

Cabang pertama Common Ground di Indonesia dan masih jadi Coffee Shop favorit saya seantero jagat! Terima kasih kepada si Gagak yang mengenalkan tempat ini dan suka ngajakin ke sini untuk Lunch jumat. Wah.. Egg Benedict & Latte-nya sih surga duniaa!!

Dulu masih Neighborhood Coffee Shop banget. Asik banget dan disinilah pertama kali saya bener-bener tau dunia kopi seperti apa. Tahun-tahun awal, baristanya bule. Hasil kopinya enaaak banget dan bikin nagih. Cantik-cantik banget pula latte artnya! Salut sama mereka karena ramah-ramah banget dan super informative. Mereka ga segan-segan buat share pengalaman dan pengetahuan mereka tentang kopi. Sayangnya setelah saya balik ke Banjarmasin 2016, keknya bule-bulenya pada ilang tuh.

Masa-masa saya kuliah, Common Ground jadi hidden hole kalau saya lagi suntuk di Radio atau Kampus. Udah lupa seberapa sering saya nangis sendirian di sini, yang pasti sering. Ada saatnya waktu saya di amukin Babeh Dana, waktu saya udah mau nyerah dengan karantina Mr & Ms LSPR, waktu saya berantem sama mantan, waktu saya stress tiba-tiba ada benjolan di leher, waktu saya putus, waktu rata-rata nilai kuliah saya amblas, waktu tau Papa kena stroke kedua dan masih banyak lagi.

Di saat terburuk saya, saya habiskan disini. Disaat saya tersedu-sedu, tiba-tiba suka ada cake atau donat yang tiba-tiba nyampe ke meja. Lengkap dengan sebox tisu! Padahal di Common Ground, SOP tisu harus di sajikan di atas piring. Service for our loyal customer, kata barista bule bertato yang sampai sekarang masih segar di ingatan saya.

Terima kasih Common Ground CityWalk Sudirman sudah ada di titik-titik terendah saya waktu kuliah. Entah kenapa selalu merasa tenang dan berpikir jernih kalau saya di sini. Sekali lagi, terima kasih!

Kultura, saksi bisu si pejuang skripsi

Lagi-lagi pertama kali ke Kultura sama si Gagak. Inget banget pertama kali ke sini waktu baru-baru buka di tahun 2013, si mantan pesen Americano sementara saya pesen Latte. Waa! Enak banget! Siapa tahu di beberapa tahun kemudian, Coffee Shop ini udah kayak rumah kedua saya yang lagi jadi si pejuang skripsi.

Jarak dari apertemen saya ke Kultura sih sebenarnya lumayan. Kalau naik ojek, 3 menit ke Taman Ratu. Tapi enaknya Kultura buka dari pagi sampai larut malam, pula wifi dan situasinya saat itu (tahun 2016) sangat kondusif buat ngerjain skripsi. Rame tapi tidak berisik. Asik kan?

Mana kalau mengingat skripsi saya itu luar biasa proses mengerjakannya! Saya cuma punya waktu sekitar 3 minggu untuk menyelesaikan semuanya. Literally TIGA MINGGU untuk LIMA BAB KUALITATIF.

Pagi-pagi jam 8an, saya sudah nangkring di lantai 2 dengan segelas Latte dan sepiring Breakfast food. Baru pulang kalau mereka sudah mau tutup sekitar jam 10an. Makan pagi di situ, buang air di situ, makan siang di situ, taking a nap di situ, nyari teori dari buku-buku super tebel juga di situ, makan malem di situ sampai bimbingan juga di situ.

Entah sudah berapa gelas kopi dan makanan yang saya habiskan selama kurang lebih 2 bulan (sampai selesai revisi) di Kultura, yang pasti saya masih tersentuh dengan kebaikan hati pegawai-pegawainya.

Seperti temen-temen tau, skripsi membutuhkan banyak buku yang harus di ubek-ubek dan saya bawa buku-buku itu setiap hari ke Kultura. Mungkin kasian apa gimana, satu koko-koko yang biasa jaga di kasir akhirnya menawarkan untuk menyimpankan buku-buku saya. Toh besok kan datang lagi juga.

Belum lagi kalau malam-malam suka di kasih bungkusan kue, tergantung apa yang sisa di display. Kadang layer cake, nastar cake, cheese cake, dan lainnya. Baik banget sih Ci! :’)

Pokoknya rasa terima kasih saya ke Koultoura (ejaan tepatnya) dan para owner-nya sudah ga bisa terungkap dengan kata-kata. Gara-gara tempat ini, si aktivis kampus seperti saya bisa loh jadi Sarjana Ilmu Komunikasi. Terima kasih!

Thousand Feets, a home in the hometown.

Pulang ke Banjar adalah hal yang paling saya sesali, sekaligus syukuri dalam hidup. Butuh waktu untuk saya beradaptasi kembali ke lingkungan yang sudah lama saya tinggalkan ini. Karena saya berlari, sementara mereka tinggal sama.

Ditambah di rumahpun saya tidak punya personal space. Kamar sendiri aja ga punya, mau berharap apa? Alhasil, tempat dimana saya bisa kabur adalah Coffee Shop. Eits tunggu deh. Ada ga sih Coffee Shop oke di Banjarmasin?

Di ping-pong ke beberapa tempat dulu sampai akhirnya saya ketemu Coffee Shop ini. Bernuansa industrial yang lokasinya lebih dekat dari Toko Pertama, ketimbang Toko kedua-yang-merupakan-rumah-saya. Jadi, lebih susah untuk kesini. Pertama, ga punya kendaraan. Kedua, ga dibolehin sering-sering. Well, nasib kembali tinggal sama orang tua.

Waktu saya pertama kali ke Office Coffee masih cukup sepi, sekitar akhir tahun 2016. Saya ingat itu hari kedua saya pulang for good. Ngopi di sini menyenangkan banget! Suprisingly Latte BENERAN ENAK! Saya yang datang tanpa ekspektasi dibuat terkagum-kagum karena segelas Hot Latte-nya persis sama kek saya minum di Jakarta.

Gila hebat ni tukang kopinya! Dari saat saya pertama kali datang, saya langsung ‘tag’ orangnya. Ini nih yang enak banget kopinya. Lama-lama jadi familiar karena saya makin sering datang. Eh, belakangan saya baru tau bahwa dialah yang punya tempat ini donggg!

Tapi hari-hari berlalu, makin hari makin rame! Sampai ada masanya kalau saya datang ke sini, saya datang tanpa laptop dan buku. Murni cuma buat ngopi. Karena percuma juga pake earphone, suara tetangga kenceng bener kek dangdutan RT! Ampun deh saya nyerah!

Tepat saat saya mulai tidak nyaman dengan Office Coffee yang berisiknya sama kek tempat konser, mereka bikin cabang kedua! Good news-nya karena dekat rumah!

Saya dan beberapa temanpun memutuskan untuk kesana sekitar bulan Maret atau awal April 2018. Saya sih lupa tepatnya kapan tapi dari langkah pertama, kami sudah kasmaran!

WAW Akhirnya saya ketemu sama Coffee Shop sesuai dengan ekspektasi saya. Ga ada yang kurang dari Office Coffee tapi kok saya lebih cinta yang ini yaa? Kopinya enak, Wifinya oke, ga berisik, bersih dan rapi. Homey banget! Sejak saat itu kalau kumpul-kumpul selalu di sini, nulis selalu di sini, ngapa-ngapain selalu di sini. Thousand Feet sudah bagian dari satelit hidup saya.

Sampai sekarang, Thousand Feet dan Office Coffee tetap jadi lokasi kabur paling oke. Kalau kata fairytale, this is my rabbit hole. Tempat dimana saya bisa menjadi diri saya sendiri dan saya punya personal space. Punya Me-Time dan satu-satunya tempat saya bisa mengejar kebahagiaan melalui tumpukan cerita. Ah indahnya~

Terima kasih Office Coffee, terima kasih Thousand Feets. Terima kasih telah hadir di bumi banua. Semesta memberkati.

Siapa Suka Cerita Cinta?

Mulai dari jaman kebesaraan Mesir, lalu Romawi, kerajaan Islam, Jane Austen di era Victorian, sampai digitalisasi sekarang. Jalan cerita cinta selalu sama. Dua hati yang ragu menjadi satu. Yang berbeda, kemudian berusaha berkompromi dan menemukan jalan pulang. Selalu seperti itu.

Sudah tau kok plotnya itu lagi, itu lagi. Lalu kenapa kita masih suka baca cerita cinta?

Apa itu cinta? Belum tau artinya saja, kamu sudah suka ceritanya. Apalagi kalau kamu jatuh cinta?

Buat saya, semua orang layak untuk menjawab pertanyaan ini. Tidak hanya pencipta dan penikmat buku. Karena, siapa sih yang tidak suka jatuh cinta? Meskipun kita tahu ‘after effects’ dari jatuh cinta adalah patah hati. Meskipun kita sudah di lukai berkali-kali, bukan kah kita masih tidak keberatan jatuh cinta?

Saya dan cerita cinta itu seperti soulmate. Cerita cinta selalu mampu memeluk saya bahkan ketika saya terpuruk dititik terendah sekalipun. Kebahagiannya, emosi dan makna yang digores di tiap kata seakan menghembuskan nafas kehidupan buat jiwa saya yang kerontang. Membuat saya punya kekuatan lagi untuk menapaki hari-hari tanpa cinta dan kebahagiaan ๐Ÿ™‚

Sayapun yakin bukan hanya saya yang dikuatkan dengan cerita cinta. Jutaan manusia di luar sana merasakan hal yang sama. Itu sebabnya cerita cinta tetap jadi primadona di kategori literatur dan sastra. Baik berbentuk puisi, cerita maupun karya lainnya, love stories never die.

Cerita cinta tidak hanya membuat kita mengenal cinta, tapi membuat kita merasakan kehadirannya, merasa dicintai. Sesuatu yang tidak kita dapatkan di dunia nyata.

Kebutuhan akan sesuatu yang ‘setia’ dan tidak berubah walau tergerus waktu, membuat kita mencintai cerita cinta.

Cinta itu hidup, oleh karenanya cerita akan terus bergerak mengikuti. Melewati beragam zaman, perubahan gaya hidup, milliar-an tokoh, jutaan cerita, ratusan plot-twist; tapi cinta tetap utuh satu.

Pembawaannya memang bisa berubah. Karakternya bisa mengikuti jaman dan keadaan, tapi pribadinya yang tetap lekang membuat kita merasa nyaman. Seperti tahu kemana jalan pulang. Kemanapun kita berlari, cinta selalu siap menerima kita dalam keadaan apapun.

Dari cerita cinta saya belajar bahwa kita tidak bisa mencari cinta. Cinta akan datang di saat kita siap. Cinta akan menemukan jalan pulangnya, di saat yang tepat.

Mengejar cinta hanya usaha sia-sia. Jangan di gesa-gesa. Ia tahu kemana, kapan dan kepada siapa ia harus pergi.

All you need is be patient. Cinta sedang jalan menujumu ๐Ÿ™‚

Sudut Teh: Rasa Manis tanpa Gula

Susah bagi saya untuk mengubah pola pikir terhadap suatu hal tertentu khususnya dengan basic ilmu pengetahun. Seperti yang teman-teman tau, saya suka sekali membaca. Sama menulis, yang lahir karena luapan cinta pada kata-kata. Jika tidak ditampar fakta, rasa-rasanya hampir tidak mungkin bisa berubah pendirian.

Bukan tidak mengerti, saya menyimak. Juga, mencoba mengerti pola pikir dan circumstances yang menyertainya. Tapi, bukan berarti saya bisa meaplikasikan hal tersebut. “I understand” doesn’t mean I will agree tho! Kira-kira seperti itu.

Lalu saya ketemu satu teman baru. Orangnya sangat menyenangkan. Cara pikir idealisnya mampu membuat saya betah ngobrol lama dengannya. Makin lama saya berbincang, saya makin dibuat penasaran. Rasa-rasanya saya mau pinjem suit-nya ant-man supaya saya bisa masuk dan obrak-abrik isi kepalanya. Geregetan!

Sampai dia ngomong tentang satu konteks yang mengelitik saya. Yaitu bagaimana menciptakan sesuatu terasa manis tanpa medium yang mengandung rasa manis. Tunggu, ngomong apa sih?

Menurut teman saya, rasa manis bisa muncul tanpa membutuhkan gula. Lebih tepatnya, sesuatu yang mengandung gula. Yang bisa dibilang juga satu-satunya medium yang bisa menambahkan rasa manis.

Otomatis saya langsung mengerutkan dahi. Karena saya pribadi tidak percaya ada bahan yang punya rasa minor manis bisa-bisa terasa manis. Gimana caranya?

Si teman saya ini mencoba mengurai pemikiran ini dengan sebuah contoh nyata. Misalnya kopi. Temen-temen tau bahwa ga ada kopi yang tidak pahit. Makanya kopi manis selalu ampuh bikin bapak-bapak pensiunan jadi pasien koko saya karena diabetes.

Itu betul. Kopi kalau mau manis pasti tambah gula, kan?

Tapi teman saya justru menolak ide itu. Dia bilang bisa kok kopi terasa manis. Kuncinya ada di roasting dan brewing; alias teknik pengolahan. Sampai sini, nafas saya jadi tercekat. Berusaha untuk menerima ide itu, beserta penjelasannya. Oke.

Singkat cerita, saya pulang dengan ide mengawang liar di kepala saya. Disatu sisi, saya tidak percaya tapi sisi lain, jiwa scientist saya penasaran! Sejak itu saya mulai melalukan beberapa percobaan dan research yang mendukung idealis yang nyeleneh itu.

Saya menggabungkan Roasted Green Tea yang saya beli di China beberapa waktu lalu; dengan Rose buds sebagai Tisane. Kedua rasanya sama-sama hambar, bahkan Rose buds ada sedikit getir. Lalu, ketika keduanya di campur, saya cuma bisa mengumpat dalam hati. Shit! How came he is true?!

Pertama kali saya mencoba racikan ini, saya cukup kaget dengan rasanya. Ada rasa manis di lidah saya! Rupanya ini muncul karena campuran Rose Buds yang menstimulasi indra lain.

Di mulai dari harum rose yang menyenangkan ternyata bisa loh menjadikan rasa manis! Penciuman, sebagai salah satu indra penting menstimulasi otak untuk merasakan apa yang ia hirup. Itu sebabnya aroma terapi kini di gandrungi.

Kedua, feeling of itself. Iya, rasanya. Rasa ‘baru’ yang tercipta bisa bikin kita pangling dan lengah. Otak kita akan di paksa loading dan masa error ini juga bisa memanipulasi rasa manis. Aneh kan? Tapi kata Koh Awang bener loh ada ilmunya *shrunk

Terakhir adalah kenyakinan itu sendiri. Reality is what we belief, begitu katanya. Ya, buat yang satu ini, akal sehat saya setuju. Meskipun tidak sepenuhnya he.

Hasil penyaringan pertama. First Cup!

Roasted Green Tea w/ Rose Buds.

Brewing for 1 tea cup (400ml) : Three-fingers-pinch of Green Tea + 5-6 piece of small rose buds.

  • Persiapkan gelas dengan cara menuangkan sedikit air panas ke dalam gelas, lalu di goyang-goyang sampai seluruh gelas hangat merata.
  • Masukan resep di atas ke dalam gelas, kasih sedikit air dan goyang-goyang gelas untuk mencuci daun-daun kering tersebut dari debu, tanah dan partikel-pertikel lain. Cukup 30 detik, lalu buang air bilasan.
  • Seduh daun dengan air mendidih selama 4 menit.
  • Tengah-tengah proses seduh, jangan lupa di aduk sesekali. Supaya ekstrak daun keluar dengan sempurna.
  • Saring daun teh, supaya bisa di pakai lagi untuk seduhan selanjutnya. Usahakan jarak antar saringan tidak terlalu lama sampai daun kering/layu.
    Selamat menikmati!
Hasil penyaringan keempat alias terakhir! Masih asik kan?

Untuk kali ini saya bisa pakai daun teh sampai 4 kali seduhan dan hasilnya masih kebagus gelas pertama. Cuma waktu perebusannya memakan waktu lebih lama (untuk mendapatkan warna seperti di atas, saya membiarkannya kurang lebih 10 menit).