Surga dan Neraka di Telapak Kaki Mama.

Tulisan ini terinspirasi dari satu quote yang bilang bahwa “Dalam pangkuan Ibu, ada ketenangan dan kedamaian”. Hmm.. Bolehkah saya tidak setuju?

Saya yakin ada ribuan jenis ‘Ibu’ dimuka bumi ini karena manusia diciptakan Tuhan sangat unik. Kata ‘lembut’ dan ‘damai’ tidak bisa diaplikasikan ke semua jenis ‘ibu’. Memang ada tipe Ibu yang lembut, tapi ada juga yang sangat demokratis, kesannya bodo amat, ada yang sangat strong, Ibu-rasa-teman, dan masih banyak lagi. Tapi apapun jenis ‘ibu’ yang kamu miliki, saya yakin kita selalu dapat ‘ibu’ terbaik dari Tuhan. Karena kalau tidak, bagaimana kita bisa berdiri sampai sekarang? 🙂

Saya lahir dari orang tua yang karakternya sangat bertolak belakang. Papa, anak bungsu haus kasih sayang sehingga jadi sangat pemberontak, keras kepala dan tidak mau mendengarkan orang lain; Mama, si baperan yang center of attention wannabe dengan hobinya nuntut karena takut kalah saing sama orang. Bayangin deh gimana jadinya 2 orang dengan model seperti ini bisa jadi suami-istri dan tinggal dalam satu rumah? 😦

Itu sebabnya mereka HOBI berantem. Waktu parah-parahnya saat saya duduk di bangku SMP. Saya ingat hampir setiap malam, saya tertidur dengan mata sembab karena Mama teriak ngamuk-ngamuk ke Papa. Saya tidak tahu apa yang mereka bicarakan, saya-pun tidak ingat apa yang terjadi saat itu, tapi ketegangan dan momen itu selalu membuat air mata saya mengalir deras tanpa saya sadari. Teman saya saat itu cuma penyiar Radio malam yang setia menemani saya dan memutarkan lagu-lagu hingga saya terlelap.

Episode lain, Mama suka tiba-tiba pergi dari rumah. Lalu, Papa akan menyuruh saya dan kakak membujuk Mama lewat telepon supaya Mama cepat pulang. Pernah juga, Mama kabur ke Bandara sehingga Saya, Papa dan kakak harus merayu Mama di Bandara untuk pulang ke rumah. Gilaaa udah kayak sinetron belum?

Puncaknya ketika suatu malam, saya melihat Mama menampar Papa. Saat itu saya mau ke kamar kecil dan saya lihat pintu Mama terbuka. Ketika saya tenggok, saya melihat Mama menampar Papa dan membuat saya shock setengah mati! Kejadian itu meninggalkan bekas trauma yang sangat mendalam hingga saat ini. Karena saat itu usia saya baru belasan tahun dan masih sangat labil.

Saya ingat waktu itu saya cuma berdoa kepada Tuhan supaya Mama Papa kembali akur seperti saat saya dan kakak masih kecil. Setiap minggu bisa ke Gereja bersama, main ke Pantai, jalan-jalan ke luar kota dan masih kegiatan menyenangkan lainnya. Itu sebabnya saya yang waktu itu masih umur belasan berusaha semaksimal mungkin untuk melakukan yang terbaik agar mereka berdua bahagia.

Saat itu kami tidak ada pembantu rumah tangga dan Mama orangnya sangat pembersih. Demi membuat Mama senang, saya setiap hari (tanpa atau disuruh Mama) bersih-bersih rumah. Rumah kami 2 lantai dengan 2 kamar, cukup luas dan gampang berdebu karena di pinggir jalan raya.

Itu untuk pertama kalinya saya melakukan pekerjaan rumah tangga karena semenjak saya lahir hingga umur 13 tahun, saya selalu ada ‘mba’. Saya tidak tahu cara menyapu, pel, setrika baju, lap kaca, cuci piring dan lainnya. Semua saya lakukan sendiri dan belajar sendiri karena saya ingin membuat Mama bangga. Bahkan saya tidak lagi merasa sakit ketika setrika panas berulang kali melukai tangan saya, sikat WC yang tajam membuat jari tangan saya terkelupas dan tidak terhitung lagi berapa kali saya tergelincir sampai kepala saya terhempas ubin karena air pel.

Tapi, taukah apa reaksi Mama ketika melihat semua pekerjaan saya? Dia ngamuk, saudara-saudari! Dia bilang saya kerja tidak pakai hati, masih berdebu, kurang bersih, dan masih banyak lagi. Saya cuma bisa diam saat melihat reaksi Mama, sambil memanjatkan doa agar Tuhan menolong saya agar saya tidak kepahitan sama Mama.

Mungkin dari sisi kebersihan, yang saya kerjakan kurang bersih tapi kenapa tidak ada sedikitpun penghargaan di lontarkan untuk saya?

Memang benar kita belajar tentang ‘cinta’ dari rumah. Tapi, dari orang yang sama kita belajar sakitnya kecewa.

Satu-satunya alasan saya masih ada hingga sekarang karena Kakak saya yang selalu ada buat saya dan menjaga saya agar tetap waras. Saya terlalu hancur karena Mama, yang emosinya terlalu meledak-ledak dan ringan tangan. Mama yang memeluk saya ketika saya sakit, mencium saya ketika saya dapat nilai bagus, mengusap rambut saya saat saya tidur dan membacakan buku cerita ketika saya sulit tidur; kini hanyalah sebuah memori indah yang tersisa di masa-masa kecil saya.

Disatu sisi saya juga sangat kecewa dengan Papa, yang bukannya sebagai kepala keluarga mencari jalan keluar terbaik atau paling minim adalah menelan mentah-mentah kejadian ini supaya anak-anak memiliki citra baik tentang ‘keluarga’. Ini malah kerjaan curhat kepada dua anaknya yang masih labil tentang keburukan Mama-nya supaya membuat kami berdua benci dengan Mama!! Such a loser. Makin parahlah drama keluarga ini~

Untungnya SMA aku pindah ke Jakarta sehingga tidak lagi menyaksikan LIVE drama keluarga yang sudah ribuan episode ini.

Di Jakarta, saya banyak menemukan hal serupa bahkan lebih tragis dan dramatis yang dirasakan teman-teman saya daripada apa yang saya rasakan. Disana saya mulai membuka pikiran saya dan menerima kenyataan bahwa Mama saya bukan yang terburuk.

Pergi belajar di Kota besar juga membuat saya menghargai arti keluarga yang mungkin hanya bisa bertemu beberapa kali dalam setahun. Saya mulai belajar mengampuni dan melupakan masa-masa kelam drama Mama Papa. Sebagai gantinya, saya malah rindu bertemu dengan mereka ❤

Bertambahnya usia juga mempengaruhi tingkat kedewasaan saya dalam melihat suatu kondisi dan permasalahan. Saya mulai bisa menempatkan diri lebih netral agar tidak mudah terpengaruh oleh retorika Papa, dan belajar untuk melihat pesan implisit yang sebenarnya Mama mau sampaikan. Maklum, perempuan banyak maksud tersiratnya kan? #huft

7 tahun tinggal di Jakarta, membuat saya matang dan cukup dewasa dalam memaknai setiap emosi dan perkelahian. Ketika sekarang saya pulang ke Banjarmasin, saya berusaha menjadi penengah antar 2 kubu yin-yang ini. Ada kalanya saya rasanya ingin mereka berdua pisah saja untuk kebaikan mereka. Di satu sisi lain, hati anak kecil saya masih belum merelakan mereka pergi.

Well, whatever happen happen and what will be will be~

Mereka akan terus berantem kok entah sampai mereka berpisah. Masalahnya bukan lagi di mereka. Tapi, bagaimana setiap anak belajar untuk tidak mengulangi kesalahan mereka, dengan tetap tunduk, hormat dan sayang dengan Mama Papa yang sudah membesarkan mereka.

No one is perfect, just like my parents. And, there is no school for parenting. Jadi mereka salah itu wajar dan layak dimaafkan seperti ketika kita juga melakukan hal itu kepada mereka.

Toh, belum tentu juga kan kalo kita jadi orang tua bisa lebih baik dari pada mereka. So, just forgive them and always give them chances to changes.

Memang traumanya akan susah hilang. Tapi saya percaya, sedalam apapun luka jika diobati terus menerus pasti kan sembuh meskipun memakan waktu dan usaha.

Family’s key of happiness are to forgive the hard feelings while presenting sincere heart.

Good luck and be happy 🙂

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s